Perkara Ta'zim (TAKJUB)

Kurang lebih 20 an tahun yang lalu. detik per detik hembusan nafasku di barengi dengan perasaan takjub dengan aneka bangunan yang serba di atas 10 meter itu, mulai dari gedung2 kantoran hingga gedung2 private milik seseorang, air liur ku terus membasahi lidah sembari berkata "deh tinggi nya". itulah gambaran anak kampung yang baru pertama kali menginjak kota se metropolitan Makassar.


Lalu saya bertime skip 15 tahunan kemudian, di sebuah ruangan yang tak terlalu luas, berubin putih, duduk tak beralas, dingin lantai menusuk hingga ke sum sum tulang belakang, di plafon ruangan menjuntai kipas angin reot berderit akibatnya lahar kipas yang dah berkarat, bunyinya kayak meong minta makan.....berderet saya dengan beberapa teman seperjuangan pencari jatidiri di pinggiran kota Sungguminasa - Gowa (SULSEL), suara sedikit agak riuh, lalu suara khas ustadz Askariaman, menyapa kami semua....

"Aalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

bla...

bla...

bla...

bla...

Ikhawani yang di muliakan Allah....suatu ketika kita mungkin merasa takjub dengan satu hal yang ada di dunia ini dan itu bukan sebuah hal yang dilarang, memang salah satu sifat fitrah manusia di ciptakan adalah perasaan untuk takjub akan sesuatu tersebut, akan tetapi apakah kita sanggup untuk menempatkan rasa takjub itu pada tempatnya.

Mungkin siangnya kita kagum akan keindahan satu yang kita pandang pada saat itu, lalu ketika waktu memanggil wajah ini untuk di perhambakan ke hadapanNya, apakah kita masih membawa rasa takjub kita itu, berapa banyak di antara kita yang merasa takjub dengan apa yang sebenarnya memiliki derajat yang sama dengan kita sebagai makhkuk ciptaanNya, lalu rasa tersebut tidak terpraktekkan sama pada dzat yang menciptakkan makhluk yang kita takjubi tadi..Ikwani...inilah Perkara Ta'zim, perkara yang kadang di hampir sebagian besar dari kita menyepelakannya, ketika kita berkantor, pakaian rapi nyaris tanpa ada kerutan, wangi molto plus parfum axe, sepatu lancip kek motor boat, rambut rapi ter Brisk yang di belah tengah, mulut wangi ter permen mentos, dan....ketika kita menghadapiNya...semua itu terbalik 360 derajat.

Allah tak butuh kita untuk memuliakannya, andai seluruh makhluk ciptaannya memuliakanNya, sungguh tak akan menambah lebar kekuasaan Allah barang semilimeter, tapi kita yang kita butuh Allah ikhwani...!!, kita yang butuh Allah, ibarat seorang yang telah dahaga bermasehi-masehi dia sangat merindukan tetesan air bening membasahi kerongkongannya.

bla....

bla....

bla...."

Panjang kisah hari itu soub,..

Lalu saya menerawang menembus plafon kamar beskem malam ini, kenangan di 20 tahunan lalu masih membekas rapi...semoga Allah menempatkan kita di barisan pembela Agamanya..Aamiin..

salam malam Ju'mat..heheh

Artikel Lain Yang Berkaitan :

0 komentar:

Posting Komentar