Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (02)

Nostalgia Masa SMA Kita


tolong di baca pelan2 sambil serumput teh di sore hari.

Pagi 15 Agustus 1996, kalau ndak salah waktu itu,...kita semua sudah berkumpul di sekolah setelah libur panjang semester genap, sekolah sudah mulai ramai, ada anak2 baru yang masuk, jumlahnya masih signifikan, rerata dari luar kota atau yang domisilinya agak jauh dari sekolah kita itu, bahkan di angkatan saya itu ada lho yang dari KAMBARA sana, dulu desa itu asri, teduh dan sejuk, pohon jeruk dimana-mana, yang punya kampung itu kalau senyum,.. aduuuh,..senyum saaaaaaangat manis semanis jeruk nya walaupun sebenarnya sebagian jeruknya ada juga yang kecut, tapi senyumNYA tetaplah manis mennnn. Sekarang saya yakin desa itu yang mungkin sekarang sudah menjadi kota lebih berkembang lagi apalagi daerah itu sudah menjadi bagian dari pemekaran kabupaten muna yang kemudian masuk dalam lingkup otonomi muna barat.

Secara zonasi kalau di persentasekan mungkin lebih banyak murid yang berasal dari luar kecamatan tepat SMA kita itu berdiri, ini mungkin yang akhirnya menjadi stigma sebagian orang-orang kalau sekolah kita itu cuma sekolah buangan, maklum kita bukan anak2 pejabat, bukan anak2 orang kaya, bukan anak2 yang ortunya terpandang punya kedudukan secara strata sosial, yang ada adalah kita2 banyak yang berasal dari keluarga petani atau kalau mau dikastakan hanya dari golongan kasta menengah kebawah. Entahlah kenapa bisa begitu apa karena standarisasi sekolah kita terlalu rendah, karena secara awal berdiri memang skolah kita itu kelanjutan dari sekolah pencetak guru yang dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saya sendiri mungkin angkatan ke 3 atau ke 4 sejak sekolah itu bertranformasi menjadi sekolah umum tingkat atas, toh dengan semua itu kami cuek dan tidak menyurutkan kami untuk tetap bersemangat sekolah walaupun selama 3 tahun kami disana, bukan cuma cerita indah yang kami lalui, ada juga cerita tentang kenakalan, kebandelan, sedih, pokoknya yang khas lah dari anak2 remaja yang kencing belum lurus, yang kalau tidur masih suka bebe ,...hahahah.

Kembali ke soal tanggal 15 itu, saya agak lupa bagaimana bentuk pengumumannya pakai kertas atau di sebut satu satu,..kami kemudian di bagi menjadi 2 jurusan, setelah 2 tahun dari kelas 1 sampai kelas 2 di amati minat dan bakatnya masing anak2 murid oleh pihak sekolah dalam hal ini dewan guru, di putuskan kami di jurusan mana, dan alhamdulillah saya bersama beberapa teman yang memang sejak awal sudah seiya dan sekata masuk ke dalam jurusan IPS, ada Suharto, Ferry, Adang, Alimuddin (ilut), Kaharuddin (Andu), Saiba, Emi Hidayat atau Emi Diana (saya agak lupa, pokoknya nama panggilannya Emi) terus ada Jawaba Nur, Zainal yang dari Tampo itu, Susanti dan beberapa temannya lainnya.

Terus beberapa teman lainnya masuk ke jurusan IPA termasuk 3 perempuan cantik teman sepermain saya dan harto, ada Leni, Purna, Ramlah, lalu ada juga Kahar the king of ........, hahahha. Almarhumah Hamdiah (semoga Allah senantiasa menerangi alam kuburnya, amiin) ada juga DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas (hahay), Dianawati, Sumarna (ehem, ehem) pa ketua Alumni sma 3 angg 1997, Irman, Azim Gani yang dulu rumahnya di ASTER sana, terus pa Hamana (yang satu ini selalu menjadi bahan cerita ke anak2 ku tentang semangat dan perjuangan pantang menyerah), ada juga Rasyidin, Oktavia, Budinem, terus ada juga Surikanti, oh iya ada juga MImi mangkere, Safia terus siapa lagi, coba di tambahkan nanti dikolom komentar.

Saya masuk di kelas 3 ips 1, ruangan kelasnya itu pas didepan gedung perpustakaan ( gedung ini punya kenangan tersendiri, mungkin satu saat nanti kalau saya dikasih kesempatan untuk melihat sekolah itu lagi, yang pertama ingin saya lihat adalah gedung perpustakaan ini), yang sisi dinding dalam ruangan kelasnya itu terbuat dari kaca nako, yang di zaman kami dulu kadang dipakai buat cermin, benarin rambut biar kek om Tomi Page yang artis holiwod itu, satu-satunya ruang kelas kalau ulangan guru tidak menghadap ke murid tapi ke dinding kaca itu, karena pantulannya bisa terlihat siapa yang mencontek, nah di belakang kelas ku itu ada lapangan badminton atau takraw, sedangkan untuk kelas 3 ips 2 ada di bagian yang sejurusan dengan kantor atau ruang BP, ruang terkeramat sejagad alam raya waktu itu,..hahaha.

Lalu untuk jurusan IPA menempati 2 unit ruang kelas yang merupakan ruang kelas baru,.. aseem... kenapa juga mereka di tempat kan di ruang kelas baru itu,...gedungnya pas berseblahan dengan pagar tembok pembatas sekolah dengan alam liar yang juga berfungsi sebagai pintu masuk keluar ke tiga setelah gapura dan yang didepan pintu gerbang SKB, di sebelah tembok itu pas tanah dan rumahnya pa abidin yang punya teras bertehel merah, di teras itu juga punya banyak tercipta kenangan manis disitu.

Selepas tanggal 15 itu kami pun memulai keadaan dengan suasana yang baru, konsentrasi pelajaran yang baru, kami belajar tentang dunia secara luas melalui beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Tatanegara, Antropologi, Sejarah, hingga hingga studi tentang phisikologi manusia pun kamu pelajari melalui pelajaran Sosiologi, anak IPPPS gitu lho,..wawasannya itu tentang dunia mennnnn..sedangkan yang jurusan IPA berkutat di pelajaran 1 + 1 = 2,....monoton di situ-situ saja, tidak belajar tentang mengoptimalkan sumber daya manusia,..saban hari kalau keluar main atau kalau pulang wajah mereka kusut karena menghafal rumus2 kimia dan fisika,..hahahaha.

Tapi bagaimana pun juga mereka tetaplah teman-teman yang pernah menghiasi jalan hidup ku, dari dulu hingga sekarang, saya yakin mereka juga akan berpikir begitu, atau tidak ya...entahlah...hahaha.

Sekitar ruang kelas 3 IPA itu ada rumahnya La Djiba yang punya silat saradiki itu, yang anaknya mirip Novia Kolopaking, suer mirip sekali, kabar terakhirnya katanya dia sudah meninggal, Innalillahi wainailahi rojiun. di depan ruang kelas ipa itu ada 2 atau 3 pohon jambu mente kalau ndak salah kadang kalau keluar main kami lempar pake batu atau kayu terus jatuh di kamarnya pa Kris terus pa kris teriak2 marah2..setelah itu baku tuduh2 semua...

di depan ruang kelas 3 IPA itu juga ada jalan kecil menuju ke belajang lab, tempat yang pernah saya pergoki la andu ngegombal wa yanti tapi di tolak, terus di depan kelas 3 ipa itu ada juga ruang kantin yang tidak di fungsikan tempat saya biasa menunggu seseorang lewat tapi dia mutar di depan lab yang kebetulan saling berhadapan juga gedungnya.

Agak naif memang, tapi akan terus, terus, terus, juga lagi, lagi, lagi sampai saya tiada lagi saya akan bercerita tentang sekolah kita, sampai dimana saya sudah tak bisa menatap kejamnya dunia, sampai saya tak bisa lagi menghirup pekatnya polusi udara.

Bulukumba, tahun ke 22 sejak kami tinggalkan sekolah hebat itu.

Salam

Artikel Lain Yang Berkaitan :

0 komentar:

Posting Komentar