Salam Untuk DIA

Salam Untuk DIA

Aku menyelinap. 
Mundur ke ingatan tentang manis senyum bibir merahmu. 
Rekah seperti delima. 
Perpaduan apik dari hitam manis kulitmu dan ikal rambutmu. 
Kusut dalam rasa yang tak pernah kutanggapi bahkan tidak dari setengah hatiku

Tapi kalbu perawan sangat dalam. 
Tak sedikit rasa terpancar dari legam matamu. 
Namun aku berpaling dari kerlinganmu. 
Aku berhenti, kamu diam. 
Kita berpisah di purnama ketiga.

Sesal bukan soal resah akan hal yg salah. 
Kata maaf bukan lagi penawar daripada dendam dan luka. 
Mengingat tak lagi berarti pada rangkaian bisumu yg abadi.
Bilakah kau berpaling padaku? 
Bercengkrama denganmu adalah asaku. 
Meraup senyum manismu dan kubawa pulang. 
Tanya itu kulepas bersama doa. 
Tenanglah di sisiNya.

Bulukumba, hari ke 14 bulan ke 12 tahun 2018

Pesantren Itu 11 12 Dengan Ikan Asin


Kalau kamu cuma baca judul, saya yakin semua sumpah serapah mu akan kamu alamatkan ke saya, walau saya ndak kasih kode pos...hehehe...jadi gini soub, di baca pelan2 baru komentar, kalau di baca Alhamdulillah, kalau ndak di baca,..ya dibacalah....itung2 menghargai teman mu ini yang sudah payah membuat postingan yang panjang kayak surat kabar, itu lagi surat kabar ndak sepanjang status saya ini...hehehe.

Beberapa waktu yang lalu istri saya menelpon, seperti biasa istri saya itu kalau menelpon lamanya luar biasa bisa sampai habis cas hp cuma untuk menjawab telponan dia, tapi sebagai wanita yang ditinggal jauh sama yayanknya wajar saja kan, dan saya pun senang, maklum kami sekeluarga cuma bisa kumpul sekali sebulan, itupun dengan durasi 2 atau 3 harian, jadi buat teman2 yang sehari-hari bisa kumpul sama keluarga maka bersyukurlah.

Dia cerita tentang pendidikan anak2, soal sekolah umum dan pesantren, dia agak kesal dengan ibu teman anak sekolahnya yang cerita terlalu berapi-api soal pesantren, kesalnya bukan soal pesantren yang bagus, bukan, bukan itu, kalau itu kami faham dan sangat bersyukur sekarang pesantren adalah salah satu intitusi pendidikan yang tidak bisa lagi di pandang sebelah mata, yang kesalnya itu, si ibu terus saja mempromosikan agar anak kami di sekolahkan di pesantren, seperti rencana dia yang mau menyekolahkan anaknya di pesantren, istri ku sudah kasih penjelasan kalau pesantren itu sekarang adalah sekolah elit, kenapa di bilang elit, biaya untuk masuk sekolah pesantren itu ndak boleh tanggung2, kudu serius disitu, tapi dasar itu ibu yang hanya melihat sesuatu dari sudut pandangnya saja,..memangnya orang hidup harus berdasarkan sudut pandang kita ?, ndak kan....istri ku jelas menolak, kami berhitung biaya, maklum kami adalah keluarga ekonomi pas2 an, bisa makan sehari itu sudah syukur...ibu wajar mau menyekolahkan anaknya di pesantren karena ekonominya baik, apalagi sekolah pesantren yang rencana mau dia sekolahkan anaknya itu masuk dalam kategori pesantren terbaik di wilayah sulawesi selatan, coba deh teman2 sekalian searching di google biaya2 yang harus dikeluarkan jika anak mau disekolahkan di pesantren, dan kami tidak mengatakan kalau pesantren itu jelek, hanya saja harus pake pertimbangan kalau mau melanjutkan sekolah disitu, terutama itu pertimbangan biaya dan minat anak2.

Ibarat kata pepatah, banyak jalan menuju roma, maka banyak pula jalan kebaikan yang bisa di tempuh ndak melulu dari pesantren atau sekolah umum, ceritanya ini fifty fifty, sekolah di pesantren bisa menjadikan anak kita bertakwa dan sukses, tapi jangan bilang kalau sekolah di sekolah umum anak2 tidak akan menjadi anak2 yang bertakwa dan sukses, begitu pula sebaliknya.

Sekarang pesantren telah berevolusi menjadi sekolah yang benar2 harus di perhitungkan, banyak kok lulusan pesantren yang telah menjadi orang2 sukses di negeri ini, hanya saja jalan kesana itu tidak mulus bagi semua orang, itu yang harus kita pikir juga, nasib orang ndak sama brow,..kamu kaya bebas semau kamu, lalu jangan samakan dengan orang lain, kalau kamu mau samakan saya cap kamu orang sombong...

lalu kenapa saya harus bilang 11 12 dengan ikan asin, dulu ikan asin itu adalah lauk yang dipandang sebelah mata, penggambaran nya kalau sudah ada ikan asin di atas meja, sudah krisis itu keuangannya,..itu dulu, sekarang ikan asin adalah salah satu lauk pauk kelas elit, beberapa hari yang lalu saya ke pasar, mencoba menawar ikan asin...50 ribu cuma dapat 5 ekor ikan asin ukuran sedang, itu lagi kalau masim hujan kayak sekarang harganya bisa lebih bengkak lagi.

Jadi baik pesantren atau ikan asin, sudah mengalami pergeseran nilai dan pengertian, jika dulu pesantren dan ikan asin dipandang remeh, sekarang persepsi itu sudah berubah...

Soo...apa pendapat mu..?

Salam

Syukur


Syukurin saja apa yang ada, nasehat klasik sejak zaman dahulu kala, Islam paling ketat mengajarkan rasa syukur pada umatnya, hanya saja sebelum rasa syukur itu ada tawakal dulu, berdoa dan berusaha, paling tidak niat untuk berubah itu ada, lalu sisanya serahkan pada Allah yang maha kuasa yag mengatur hidup dan kehidupan setiap makhluk yang bernafas di muka bumi ini, apa yang di putuskan oleh tuhan itulah pilihan terbaik untuk kita, proses nya itu tidak terjadi dalam rentang sekali dalam seumur hidup kita, tapi terus berputar dalam aktifitas keseharian kita, detik ini kita berbuat maka di detik berikutnya kita di tuntut untuk berbuat lagi, maksudnya gini, hari ini kita bekerja dan menghasilkan sekian-sekian, itu sudah upaya maksimal maka syukuri apa yang di dapat, besok kembali dengan hal yang sama, hasil hari itu,  itu lah apa yang sudah Allah putuskan untuk kita.

Tapi kadang soub, kita jadi kurang menempatkan persepsi syukur ini, dan sungguh tak lazim buat saya pribadi , saat saya, kamu, atau yang lain, berada di zona yang nyaman, lalu ada saudara kita mungkin karena kurang beruntung, seharian bekerja keras dengan segala daya dan upaya dia, lalu di a terjatuh dalam sakit karena aktifitasnya, lalu kita dengan santai bilang, brow...mencari nafkah silahkan, tapi jangan bernafsu dunia tidak di bawa mati, syukuri saja apa yang ada, bla, bla, bla dan kalimat lainnya....rasanya gimana yah,..kok seakan-akan kita jadi bijak begitu mengajarkan rasa tentang rasa syukur pada orang, semua orang pasti bersyukur, tapi nggak segitunya juga sampai bilang dengan bahasa untuk melemahkan perjuangan dia, ada seorang abang  becak misalnya nih  siapa tau saja memang pada waktu itu dia ndak dapat muatan, dan pas dapat muatan hujan sedang deras2nya, sebagai seorang pekerja hujan bukan halangan dia untuk menarik becak yang berisi muatan itu, lalu ternyata dia jatuh sakit karena berhujan-hujan itu, lalu kita yang berada di nasib yang berbeda dengan abang becak itu santai mengatakan seperti kalimat2 diatas,.kekira gimana yah perasaan abang becak itu,...dia behujan-hujan itu itulah usaha dan perjuangan dia, dia sakit itu adalah sebuah konsekuesi, apa yang dia dapatkan itulah ketetapan dari Allah, baru disitu disebut syukuri yang didapat pada hari itu..

Paling elegant kalau kita bilang begini, "tetap semangat brow, jangan pantang menyerah dan mudah2 an cepat sembuh"...

Yang mau saya bilang..saya pribadi itu paling malas dengan ajakan bersyukur dari orang yang hidupnya berada di zona nyaman yang hidupnya tak pernah ada masalah berarti, apalagi dengan bahasa yang melemahkan semangat untuk berjuang....

Ada teman dia bikin lebih detil lagi ...

"Pendapat ane tentang syukur yg sering dikatakan orang2 sekarang seolah2 sebuah ajakan agar orang yg mengalami ketidak beruntungan itu tidak boleh protes, berontak, dll.

Saya pribadi pernah marah kepada teman saya yg mengatakan sabar serta bersyukurlah kepada bawahannya, yang saat itu bawahannya protes karena ketidak adilan..

Saya katakan kepada dia, bahwa kamu minta mereka bersabar dan bersyukur agar kamu tidak diprotes khan???, jadi kita tidak perlu diajarkan bagaimana itu sabar dan syukur yg sebenarnya..

Mereka2 yg sdh diposisi nyaman hanya bisa berteori atau berbicara,

Tetapi ketika mereka merasakan pahitnya hidup atau merasakan ketidak beruntungan itu mereka mengeluh, menganggap tuhan tidak adil, negatif thingking pada orang lain, bahkan naudzubillahi min zaaliq, jalan haram pun dilibas demi sebuah keberuntungannya."

Saya mau mencoba membawa ke konteks kekinian,..pak presiden Jokowi meminta kita untuk bersyukur dengan pertumbuhan yang hanya mentok di angka 5 %, itu pun koma-komanya ndak sampai 10...kisaran 5.0,2 % (pake desimal lagi di belakang angka 5 nya), saya mau bilang hidup ini kejam brow....di tingkat bawah, beberapa item sudah merangkak naik, teman saya yang punya usaha pres ban mengatakan kalau harga karet tempel naik, makanya dia kasih naik juga ongkos pres ban, yang tadinya cuma 30 ribu untuk 1 ban menjadi 35 ribu per ban.

Berani protes nggak kita kalau sudah Pak Jokowi yang bilang "ayo bersyukur"...


Salam 
 

Copyright 2018 My Chapter: Februari 2020 Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About