Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (03

SMA 3 Raha dalam kenangan


Bulukumba, hari ke 23 bulan ke 9 tahun ke 2019.

Sudah 22 tahun sejak saya meninggalkan sekolah kita itu, tahun 1997, awal2 dimana negeri kita terkena resesi yang mungkin dampaknya masih terasa hingga sekarang, boleh di bilang masa itu adalah sesuatu yang mengagetkan, bayangkan saja jika 2 tahun sebelumnya kita jajan pisang goreng di warungnya mama la Isran 500 rupiah dapat 4 potong, tapi di tahun itu kita hanya bisa dapat 500 rupiah 1 potong, tapi dasar jahilnya mereka, jajan 500 makannya 5000, setelah itu saling tuduh menuduh, mamanya Isran sih Bibi ku jadi aku sih bebas,..hahahahhaa.

Tahun pertama di kelas masing2 kita2 masih malu2, masih menjaga jarak, saling mencuri pandang, saling mempelajari karakter masing2, ada yang memang di tahun pertamanya itu sudah brenseknya minta ampun, ada juga yang di tahun pertamanya itu sok tau akan segala hal, lalu ada juga yang sejak tahun pertama sampai tahun ke tiga kupernya nggak berubah-rubah, tapi itulah awal bentuk transformasi kita sebagai siswa SMA 3 Raha. Tahun pertama saya di kelas 1.3 walikelasku kakaknya fatma yang guru Biologi itu, yang killernya minta ampun, saya paling ndak suka disuruh menyanyi di depan kelas gegara tidak kerjakan PR Biologi, saya sejak awal memang tidak menyukai pelajaran ilmu pasti, karena menurut ku ilmu pasti itu membatasi pola wawasan dalam berpikir, kita hanya berkutat di teori, rumus dan lain2, wali kelas itu punya adik Fatma namanya kalau tidak salah dia satu kelas dengan saya di kelas 1, Budinem juga mungkin sekelas dengan saya,...agak lupa juga, teman pria yang saya masih ingat waktu di kelas 1 cuma la Ikra, sisanya sedang saya usahakan untuk saya ingat.

Tahun ke 2, masing2 karakter sudah mulai berkembang, alur minatnya sudah mulai terbentuk, beberapa teman sudah nampak minat dan bakatnya, ada yang menjurus ke ini, ada juga yang menjurus ke situ bahkan ada juga yang jurusan maunya selalu ke pasar laino atau jalan2 ke bypas, hahaha....tumbuh kembang kita disekolah itu sejatinya di mulai di tahun ke dua, antara kita nyaris tak ada batas, dulu di tahun pertama kita masih saling menjaga lisan, di tahun ke 2 sudah ndak ragu bercanda, bersenda gura, jahilin teman dan lain2 pokoknya segala keseruan di masa2 ranumnya itu di lakukan, hanya saja kita jauh dari hal2 yang negatif kita ndak kenal narkoba dan sejenisnya.

Tahun ketiga karakter masing2 makin kuat, apalagi kita2 waktu itu sudah penjurusan, ada yang masuk ipa dan yang masuk IPS, beberapa teman akrab yang mungkin saja waktu di tahun ke 2 sebangku pas naik ke kelas 3 harus rela pisah bangku kelas, karena berbeda jurusan, lalu ada juga yang dulu kurang akrab di kelas 1 dan 2 pas naik ke kelas 3 bisa jadi akrab karena satu jurusan., saya sendiri memilih masuk jurusan IPS, karena saya pikir di jurusan itu saya bisa lebih bebas mengekpresikan cara ku memandang dunia, kadang juga sih saya merasa kasihan dengan beberapa teman2 yang masuk jurusan IPA yang kalau keluar main atau pulang mukanya pucat kering mikirin PR fisika yang rumusnya mereka ndak faham juga,..hahaha.kasihan deh kalian...

Soub,....jujur,..selama kebersamaan kita di 3 tahun itu, sebenarnya kita sedang bersandiwara, masa-masa indah di kebersamaan kita waktu itu adalah sebuah kepura-puraan kita, bak sebuah cerita pewayangan yang sukses kita lakoni, sebuah skenario telenovela yang hanya untuk menutupi sebuah tragedi yang mau atau tidak mau akan kita lakukan,....saya marah, ingin rasanya teriak, .....kenapa itu harus kita lakukan, kenapa,..kenapa, kenapa...dan sampai sekarang pun saya masih sulit untuk menjawabnya....

Siang itu, di aula, di dalam sebuah acara yang sangat sederhana, wajah2 polos, mata2 yang indah, senyum2 yang manis saling bercanda tertawa lepas, menceritakan sebuah cerita yang mungkin baru saja di alami ketemannya yang lain, kayak orang yang lupa kalau dia punya utang bermilyar-milyar.

Sesama kita saling tertawa lepas, saling ngegosip, tapi saya yakin perasaan kita semua waktu itu sedang gundah, kacau atau apalah...yah...siang itu adalah hari terakhir kita berseragam putih abu-abu, hari terakhir kita kalau masuk sekolah via gapura utama mungut dulu dedaunan yang berjatuhan, hari terakhir kita menyebut istilah "era perundagian", hari terakhir kita kejar-kejaran dengan pa Agakhan, hari terakhir kita lompat pagar di belakang kelas 3 ipa, hari terakhir kita upacara bendera di lapangan depan sekolah yang di bagian pengerek benderanya terlalu sempit butuh berhari-hari untuk di biasakan, hari teakhir kita..ahhh...tak sanggup aku menulisnya soub...

Sesaat kemudian mata mata yang indah itu harus memerah karena sedih, sedih berpisah dengan teman yang selama 3 tahun bersama-sama menjalani kisah yang indah, senang, susah dan lain.

Mungkin hari itu adalah hari yang akan saya paling saya benci, dalam seumur hidupku, tapi itulah roda kehidupan, masing2 dari kita punya cita2 dan rencana yang lebih besar, cuman 1 pesan ku untuk MU,..iya KAMU,..eits.jangan lihat kiri kanan, cuma ada saya dan KAMU disini, selalu ingatlah kalau Aku dan KAMU pernah berjalan bersama dia atas rumput sekolah.


Salam

Keterangan foto

panah berwarna hitam, adalah gedung perpustakaan sekolah kita, gedung yang punya kisah tersendiri, kan terkenang sampai kapan pun

panah berwarna merah adalah ruang kelas ku, kelas 3 ips 1.


Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (02)

Nostalgia Masa SMA Kita


tolong di baca pelan2 sambil serumput teh di sore hari.

Pagi 15 Agustus 1996, kalau ndak salah waktu itu,...kita semua sudah berkumpul di sekolah setelah libur panjang semester genap, sekolah sudah mulai ramai, ada anak2 baru yang masuk, jumlahnya masih signifikan, rerata dari luar kota atau yang domisilinya agak jauh dari sekolah kita itu, bahkan di angkatan saya itu ada lho yang dari KAMBARA sana, dulu desa itu asri, teduh dan sejuk, pohon jeruk dimana-mana, yang punya kampung itu kalau senyum,.. aduuuh,..senyum saaaaaaangat manis semanis jeruk nya walaupun sebenarnya sebagian jeruknya ada juga yang kecut, tapi senyumNYA tetaplah manis mennnn. Sekarang saya yakin desa itu yang mungkin sekarang sudah menjadi kota lebih berkembang lagi apalagi daerah itu sudah menjadi bagian dari pemekaran kabupaten muna yang kemudian masuk dalam lingkup otonomi muna barat.

Secara zonasi kalau di persentasekan mungkin lebih banyak murid yang berasal dari luar kecamatan tepat SMA kita itu berdiri, ini mungkin yang akhirnya menjadi stigma sebagian orang-orang kalau sekolah kita itu cuma sekolah buangan, maklum kita bukan anak2 pejabat, bukan anak2 orang kaya, bukan anak2 yang ortunya terpandang punya kedudukan secara strata sosial, yang ada adalah kita2 banyak yang berasal dari keluarga petani atau kalau mau dikastakan hanya dari golongan kasta menengah kebawah. Entahlah kenapa bisa begitu apa karena standarisasi sekolah kita terlalu rendah, karena secara awal berdiri memang skolah kita itu kelanjutan dari sekolah pencetak guru yang dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saya sendiri mungkin angkatan ke 3 atau ke 4 sejak sekolah itu bertranformasi menjadi sekolah umum tingkat atas, toh dengan semua itu kami cuek dan tidak menyurutkan kami untuk tetap bersemangat sekolah walaupun selama 3 tahun kami disana, bukan cuma cerita indah yang kami lalui, ada juga cerita tentang kenakalan, kebandelan, sedih, pokoknya yang khas lah dari anak2 remaja yang kencing belum lurus, yang kalau tidur masih suka bebe ,...hahahah.

Kembali ke soal tanggal 15 itu, saya agak lupa bagaimana bentuk pengumumannya pakai kertas atau di sebut satu satu,..kami kemudian di bagi menjadi 2 jurusan, setelah 2 tahun dari kelas 1 sampai kelas 2 di amati minat dan bakatnya masing anak2 murid oleh pihak sekolah dalam hal ini dewan guru, di putuskan kami di jurusan mana, dan alhamdulillah saya bersama beberapa teman yang memang sejak awal sudah seiya dan sekata masuk ke dalam jurusan IPS, ada Suharto, Ferry, Adang, Alimuddin (ilut), Kaharuddin (Andu), Saiba, Emi Hidayat atau Emi Diana (saya agak lupa, pokoknya nama panggilannya Emi) terus ada Jawaba Nur, Zainal yang dari Tampo itu, Susanti dan beberapa temannya lainnya.

Terus beberapa teman lainnya masuk ke jurusan IPA termasuk 3 perempuan cantik teman sepermain saya dan harto, ada Leni, Purna, Ramlah, lalu ada juga Kahar the king of ........, hahahha. Almarhumah Hamdiah (semoga Allah senantiasa menerangi alam kuburnya, amiin) ada juga DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas (hahay), Dianawati, Sumarna (ehem, ehem) pa ketua Alumni sma 3 angg 1997, Irman, Azim Gani yang dulu rumahnya di ASTER sana, terus pa Hamana (yang satu ini selalu menjadi bahan cerita ke anak2 ku tentang semangat dan perjuangan pantang menyerah), ada juga Rasyidin, Oktavia, Budinem, terus ada juga Surikanti, oh iya ada juga MImi mangkere, Safia terus siapa lagi, coba di tambahkan nanti dikolom komentar.

Saya masuk di kelas 3 ips 1, ruangan kelasnya itu pas didepan gedung perpustakaan ( gedung ini punya kenangan tersendiri, mungkin satu saat nanti kalau saya dikasih kesempatan untuk melihat sekolah itu lagi, yang pertama ingin saya lihat adalah gedung perpustakaan ini), yang sisi dinding dalam ruangan kelasnya itu terbuat dari kaca nako, yang di zaman kami dulu kadang dipakai buat cermin, benarin rambut biar kek om Tomi Page yang artis holiwod itu, satu-satunya ruang kelas kalau ulangan guru tidak menghadap ke murid tapi ke dinding kaca itu, karena pantulannya bisa terlihat siapa yang mencontek, nah di belakang kelas ku itu ada lapangan badminton atau takraw, sedangkan untuk kelas 3 ips 2 ada di bagian yang sejurusan dengan kantor atau ruang BP, ruang terkeramat sejagad alam raya waktu itu,..hahaha.

Lalu untuk jurusan IPA menempati 2 unit ruang kelas yang merupakan ruang kelas baru,.. aseem... kenapa juga mereka di tempat kan di ruang kelas baru itu,...gedungnya pas berseblahan dengan pagar tembok pembatas sekolah dengan alam liar yang juga berfungsi sebagai pintu masuk keluar ke tiga setelah gapura dan yang didepan pintu gerbang SKB, di sebelah tembok itu pas tanah dan rumahnya pa abidin yang punya teras bertehel merah, di teras itu juga punya banyak tercipta kenangan manis disitu.

Selepas tanggal 15 itu kami pun memulai keadaan dengan suasana yang baru, konsentrasi pelajaran yang baru, kami belajar tentang dunia secara luas melalui beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Tatanegara, Antropologi, Sejarah, hingga hingga studi tentang phisikologi manusia pun kamu pelajari melalui pelajaran Sosiologi, anak IPPPS gitu lho,..wawasannya itu tentang dunia mennnnn..sedangkan yang jurusan IPA berkutat di pelajaran 1 + 1 = 2,....monoton di situ-situ saja, tidak belajar tentang mengoptimalkan sumber daya manusia,..saban hari kalau keluar main atau kalau pulang wajah mereka kusut karena menghafal rumus2 kimia dan fisika,..hahahaha.

Tapi bagaimana pun juga mereka tetaplah teman-teman yang pernah menghiasi jalan hidup ku, dari dulu hingga sekarang, saya yakin mereka juga akan berpikir begitu, atau tidak ya...entahlah...hahaha.

Sekitar ruang kelas 3 IPA itu ada rumahnya La Djiba yang punya silat saradiki itu, yang anaknya mirip Novia Kolopaking, suer mirip sekali, kabar terakhirnya katanya dia sudah meninggal, Innalillahi wainailahi rojiun. di depan ruang kelas ipa itu ada 2 atau 3 pohon jambu mente kalau ndak salah kadang kalau keluar main kami lempar pake batu atau kayu terus jatuh di kamarnya pa Kris terus pa kris teriak2 marah2..setelah itu baku tuduh2 semua...

di depan ruang kelas 3 IPA itu juga ada jalan kecil menuju ke belajang lab, tempat yang pernah saya pergoki la andu ngegombal wa yanti tapi di tolak, terus di depan kelas 3 ipa itu ada juga ruang kantin yang tidak di fungsikan tempat saya biasa menunggu seseorang lewat tapi dia mutar di depan lab yang kebetulan saling berhadapan juga gedungnya.

Agak naif memang, tapi akan terus, terus, terus, juga lagi, lagi, lagi sampai saya tiada lagi saya akan bercerita tentang sekolah kita, sampai dimana saya sudah tak bisa menatap kejamnya dunia, sampai saya tak bisa lagi menghirup pekatnya polusi udara.

Bulukumba, tahun ke 22 sejak kami tinggalkan sekolah hebat itu.

Salam

Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (01)



Nostalgia Masa SMA kita

Pintu masuk ada 2, di gapura sekolah yang pas di samping papan nama itu, gapura itu cukup keramat, karena 90 % siswanya jarang yang mau masuk lewat situ, pintu ke dua pas yang berhadapan dengan gapura SKB, sebenarnya masih ada pintu ke tiga, tepatnya di belakang ruang kelas 3 ipa, tapi itu darurat hanya untuk di pergunakan dalam keadaan genting,..hehehe

di samping lapangan upacara ada arena untuk olahraga sepak takraw atau untuk bulutangkis bisa juga, di situ juga dekat dengan tempat parkir motor, ruang kelas kita dihubungkan oleh koridor beratap teduh, sehingga jika kita berpindah kelas ndak kepanasan, kita dulu pake sistem moving kelas, ruang kelas kita cangat refrensentatif untuk belajar, ada banyak ruangan ndak ada yang namanya masuk siang karena ruang kelas cukup.

Ada lapangan sepakbola mini tempat kita semua berolahraga, tempat terjadinya tragedi jalan cepat di pagi hari, lakonnya wa Anu, yang punya rambut hitam berkilau, yang punya mata indah kek penyanyi bule Alanais Morisete, lalu ada ruang kelas ipa, jendela kacanya punya moment manis yang tetap terkenang sampai saat ini,...

ah...DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas

saya awali kehidupan ku di sekolah ini sekitar tahun 1995, bersama teman-teman yang luar biasa hebatnya, walaupun ada beberapa yang kemudian saya kenal belakangan karena pindahan tapi tidak dapat mengurangi rasa sayang dan hormatku kepada mereka, ada salah satu sobat terbaik ku La ode kahar, lalu ada juga dia yang punya Siluet Indah di Depan Kelas Ku dan beberapa lainnya.

Banyak cerita dan kisah tercipta, seperti yang di nanyikan di lagu ini,..nostalgia masa sma masa yang tak akan hilang begitu saja.

Masing2 dari kita sudah terpisah oleh laut, daratan dan cita2,..tapi saya yakin suatu saat nanti kita semua akan kembali bersua, saling berbagi cerita dan pengalaman, saling berbagi hal yang sudah terlewatkan di 20 tahunan ini....

Salam rindu ku untuk kalian semua

Zulham Efendi Alumni SMA 3 Raha Angg 1997
 

Copyright 2018 My Chapter: September 2019 Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About