SENJA DI TANJUNG BUNGA



"Lemah langkah kaki berayun, sedih bergelayut, tanya menumpuk. Tidakkah kau iba pada rasa yang telah lama aku pelihara ini? Malam mulai likat, aku pulang membawa sekantung luka"

***

Kapal baru sandar di dermaga, buruh pelabuhan lincah melompat ke body kapal tanpa takut terpeleset jatuh ke laut, atau paling parah terbentur beton dermaga dan cedera. Bahu kekar, tangan berurat, wajah keras, melukiskan kerasnya hidup untuk dilalui. Aku sendiri berdiri di pinggir dermaga menanti sosok yang sedari tadi aku tunggu. “Ham, jemput saya ya. Bawaanku banyak. Maklum cewek. Hehehe.” Tawanya renyah di ujung pulau. Aku menunggu perempuan yang telah sama-sama menikmati lucunya masa bermain, bandelnya masa sekolah. Akan tetapi, apakah dia juga merasakan indahnya masa jatuh cinta? Aku bertanya-tanya.

'Sepertinya semua ini isi lemarimu ya. Cewek kalau kemana-mana apa memang serepot ini?' bibir mungilnya cemberut, membuatku ingin mengecup bibir manja itu agar tak kesal lagi. “Ham, besok-besok kalau kamu sudah punya istri pasti lebih banya lagi bawaannya. Jadi, anggap saja belajar ya?” Matanya mengerling, tangannya merangkul lenganku mesra. Nyut, seketika jantungku. Duh, tidakkah kau dengar gaduh jantungku yang ingin mendobrak dadaku? Jika perempuan yang menjadi istri itu kamu, tak mengapa jika seisi bumi pun kubawakan untukmu. 

Belum mati mesin motor, dia sudah melompat dan berlari menuju pintu rumah. Semangat mengetuk pintu dan memberi salam. Sesaat kemudian wanita setengah abad keluar dan langsung sumrigah melihat putri bungsunya di depan pintu. Permata keluarga telah kembali dari perantauan menimba ilmu, pulang ke kampung halaman untuk membantu memakmurkan desa. 

Aku tergopoh-gopoh membawa beberapa tas. “Senja, kamu itu ya. Lihat Irham kepayahan membawa barang-barangmu.” Tante Sri memarahi putri bungsunya. Dia cuma menjulurkan lidahnya dan berjalan mendekatiku, “Bu, lihat otot-ototnya ini. Rumah Ibu saja ini bisa diangkat dan dibawa-bawa.” Katanya sambil meremas otot bisepku. Aku tersenyum. Candanya selalu saja renyah tapi ada juga pilu yang berdenyut di dadaku. Tante Sri iba melihatku dan menawarkan mampir dulu beristirahat dan menikmati secangkir teh. Aku menolak sopan karena sore mulai hilang sebentar lagi gelap menyelimuti. Aku pamit pulang, Senja mengantarku sampai di motor. Aku berlalu dan dia masih melambai. Malam yang mulai turun ini aku bahagia karena senja sama-sama datang.

***

"Kupungut keping-keping rindu di lantai kamarku. Menyusunnya dalam bejana yang mulai kusam. Aku menghitung dan mencari potongan-potongan kenangan. Bilakah dada ini mulai gemuruh ketika menikmati renyah candamu? Akan tetapi, tak kulihat kau merasakan gemuruh yang sama. Ataukah kau menyembunyikannya apik di sudut hatimu? Aku bertanya-tanya"

Pagi baru mau mendaki, ibu memanggil dari balik pintu kamar, “Ham, ada Senja menunggu di depan. Katanya mau ketemu.” Aku bergegas, mandi dan pakaian yang rapi, tak lupa memakai parfum agar tak malu jika aroma tubuhku mengganggu pernapasannya. Aku segera keluar menemui gadis berparas lembut yang selalu mengganggu tidurku. 

“Lagi jatuh cinta ya? Wangi beneeeer,” katanya tiba-tiba. Aku gelagapan, dia cuma tertawa, aku tertegun. Dia langsung menarik tanganku mengajakku keluar. Setelah berpamitan pada ibuku, kami melaju dengan sepeda motor andalanku. Kamu duduk di boncenganku, merangkul dari belakang sambil bercerita tentang masa-masa kuliahmu. Aku cuma mendengarkan sambil menahan napas takut degup jantungku terdengar olehmu. Seharian itu kami cuma berkeliling kampung, mengunjungi tempat kami bermain dulu, dan tempat-tempat lain yang banyak mencipta kenangan. Terakhir kami duduk-duduk di dermaga. Menunggu jingga berpendar. Seperti namamu, kamu suka senja. Lembayung yang menyelimuti langit sangat cantik. Akan tetapi, kamu yang tercantik. Kamu duduk bersandar di bahuku, mata terpejam, bibirmu menyungging senyum, anak rambutmu bermain saat ditiup angin. Aku harap waktu berhenti saat ini agar senja tetap bersamaku.

***

"Aku duduk di dermaga, memejamkan mata, menikmati sepoi dari laut menerpa wajahku. Matahari berayun, pantulannya di laut sangat indah. Seperti biasa langit menjanjikan jingga di penghujung senja. Damai dan tentram tapi tidak dengan hatiku. Ada gelisah yang belum terjawab"

Seminggu yang lalu, di tempat yang sama aku memberanikan diriku mengungkapkan isi hatiku. Kegelisahan kelelakianku setiap kali berada di dekatmu. Banyaknya kepingan-kepingan rindu yang selalu aku simpan. Semua tumpah ruah di hadapanmu. Kamu diam, sendu matamu melihat ke dalam mataku. Baru kali ini aku tak tahu apa arti tatapanmu. Tak menunggu Senja datang, aku mengajakmu segera pulang. Di halaman rumahmu, sebelum kamu berpaling, lirih suaraku memintamu datang ke dermaga seminggu lagi dan aku meminta jawabanmu. Kamu masih diam, segera berpaling dan masuk ke rumah meninggalkanku dengan perasaan yang semakin tak karuan. 

Aku masih menunggu kedatanganmu. Besar harapku kau menerima dan membalas rasa yang sederhana ini, walau sangat rumit aku ungkapkan. Akan tetapi, Senja yang sudah datang tak menunggumu datang. Dia sudah akan berlalu sedang dirimu tak kunjung menyapanya. Malam yang mulai turun ini hatiku kecewa, senja datang tapi tidak dengan Senjaku. Tanyaku akhirnya menemukan jawaban. 
 

Copyright 2018 My Chapter: Februari 2019 Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About