Aku, KAMU dan Juga Yang Lain (04)

Dahulu di SMA 3 Raha

Aku, kamu dan juga yang lain adalah manusia yang masih punya pesona di umur yang setengah tua ini, meski kita dah di balut keriput yang makin kentara, dan mungkin juga juga daki yang kian menebal,...(oh tidak..itu untuk satu orang..hahahah).

Tapi harapan ku, di sisa moment itu, biarlah senyum kita masih mengembang di bibir masing2, yang menandakan kalau kita pun menolak untuk punah..hehehe

Biarkan canda ceria mengalir bebas, ntuk sekedar menjaga semua memori yang mulai tergerus oleh rentang waktu yang panjang, kalau tak sanggup lagi ntuk mengingat, marilah kita mendengarkan musik2 lama atau apalah yang mungkin saja itu dapat membantu kita untuk kembali mengingat masa-masa emas kita dulu.

Dahulu, Aku, KAMU dan juga yang lain satu sekolah, bahkan mungkin diantara kita ada yang satu bangku, dahulu kita begitu mudahnya kita saling berbagi uang jajan, berbagi bekal air minum, berbagi utang di warungnya la Djiba, berbagi pulpen, berbagi jawaban tugas dan ulangan, dan kali ini dengan jarak yang cukup jauh antara Aku, KAMU dan juga yang lain, mungkin tak akan lagi saling berbagi seperti masa2 itu, tapi paling tidak antara kita saling berbagi pengalaman dan cerita masing2, cerita bagaimana kita menjalani hidup yang keras ini, saling suport antara kita....

Sahabatku Tercinta

Jalan hidup kita memang sudah berbeda, seperti di pertigaan masuk ke sekolah kita dulu,...aku belok kiri arah motewe, sedang KAMU belok kanan arah ke kota...yah walaupun kadang2 aku belok kanan juga tapi ndak jauh2 sih, paling di mojok di depan gereja tua itu, buat temanin someone yang punya rambut ikal indah beraroma wangi khas dari santan parutan kelapa,....

Tapi,...walaupun kita sudah tidak lagi sejalan, pesan ku soub !!!,.......bahwa betapa beruntungnya kita di umur yang menjelang tua ini,..tuhan masih mempertemukan kita dengan cara-NYA.

Hingga kita dapat kembali mengenang masa-masa muda dulu, masa-masa indah yang pernah kita lewati bersama.

Banyak, banyak,..pokoknya banyak, lembaran album berhalaman-halaman pun rasanya tak akan sanggup memuat kisah2 Aku, KAMU dan juga yang lain jika itu hendak di tintakan di kertas putih.

Sob...

Mari nikmati kenangan indah ini dengan rasa syukur.

Sebelum Aku, KAMU dan juga yang lain , satu demi satu dari kita tiada, sebelum apa yang selama ini nyata menjadi fana tak tersisa.

Terimakasih sahabat2 ku di masa muda, dan terimakasih sahabat ku2 di masa-masa menjelang tua

Mari kita saling mengingatkan, memaafkan dengan hati yang tulus

Semoga kita senentiasa sehat, sukses dan bahagia dimana pun kita berada

Jangan pernah memutus persahabatan, kecuali jika kita telah berpindah ke dunia abadi.

Hidup cuma sekali, jika benar hidup itu indah ?, ingin kembali ku tatap wajah dan senyum manis MU seperti dahulu kala, walapun itu untuk satu kali saja.

salam

Zulham Efendi,..Alumni 3 IPS 1, SMA 3 Raha angkatan 1997..

Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (03

SMA 3 Raha dalam kenangan


Bulukumba, hari ke 23 bulan ke 9 tahun ke 2019.

Sudah 22 tahun sejak saya meninggalkan sekolah kita itu, tahun 1997, awal2 dimana negeri kita terkena resesi yang mungkin dampaknya masih terasa hingga sekarang, boleh di bilang masa itu adalah sesuatu yang mengagetkan, bayangkan saja jika 2 tahun sebelumnya kita jajan pisang goreng di warungnya mama la Isran 500 rupiah dapat 4 potong, tapi di tahun itu kita hanya bisa dapat 500 rupiah 1 potong, tapi dasar jahilnya mereka, jajan 500 makannya 5000, setelah itu saling tuduh menuduh, mamanya Isran sih Bibi ku jadi aku sih bebas,..hahahahhaa.

Tahun pertama di kelas masing2 kita2 masih malu2, masih menjaga jarak, saling mencuri pandang, saling mempelajari karakter masing2, ada yang memang di tahun pertamanya itu sudah brenseknya minta ampun, ada juga yang di tahun pertamanya itu sok tau akan segala hal, lalu ada juga yang sejak tahun pertama sampai tahun ke tiga kupernya nggak berubah-rubah, tapi itulah awal bentuk transformasi kita sebagai siswa SMA 3 Raha. Tahun pertama saya di kelas 1.3 walikelasku kakaknya fatma yang guru Biologi itu, yang killernya minta ampun, saya paling ndak suka disuruh menyanyi di depan kelas gegara tidak kerjakan PR Biologi, saya sejak awal memang tidak menyukai pelajaran ilmu pasti, karena menurut ku ilmu pasti itu membatasi pola wawasan dalam berpikir, kita hanya berkutat di teori, rumus dan lain2, wali kelas itu punya adik Fatma namanya kalau tidak salah dia satu kelas dengan saya di kelas 1, Budinem juga mungkin sekelas dengan saya,...agak lupa juga, teman pria yang saya masih ingat waktu di kelas 1 cuma la Ikra, sisanya sedang saya usahakan untuk saya ingat.

Tahun ke 2, masing2 karakter sudah mulai berkembang, alur minatnya sudah mulai terbentuk, beberapa teman sudah nampak minat dan bakatnya, ada yang menjurus ke ini, ada juga yang menjurus ke situ bahkan ada juga yang jurusan maunya selalu ke pasar laino atau jalan2 ke bypas, hahaha....tumbuh kembang kita disekolah itu sejatinya di mulai di tahun ke dua, antara kita nyaris tak ada batas, dulu di tahun pertama kita masih saling menjaga lisan, di tahun ke 2 sudah ndak ragu bercanda, bersenda gura, jahilin teman dan lain2 pokoknya segala keseruan di masa2 ranumnya itu di lakukan, hanya saja kita jauh dari hal2 yang negatif kita ndak kenal narkoba dan sejenisnya.

Tahun ketiga karakter masing2 makin kuat, apalagi kita2 waktu itu sudah penjurusan, ada yang masuk ipa dan yang masuk IPS, beberapa teman akrab yang mungkin saja waktu di tahun ke 2 sebangku pas naik ke kelas 3 harus rela pisah bangku kelas, karena berbeda jurusan, lalu ada juga yang dulu kurang akrab di kelas 1 dan 2 pas naik ke kelas 3 bisa jadi akrab karena satu jurusan., saya sendiri memilih masuk jurusan IPS, karena saya pikir di jurusan itu saya bisa lebih bebas mengekpresikan cara ku memandang dunia, kadang juga sih saya merasa kasihan dengan beberapa teman2 yang masuk jurusan IPA yang kalau keluar main atau pulang mukanya pucat kering mikirin PR fisika yang rumusnya mereka ndak faham juga,..hahaha.kasihan deh kalian...

Soub,....jujur,..selama kebersamaan kita di 3 tahun itu, sebenarnya kita sedang bersandiwara, masa-masa indah di kebersamaan kita waktu itu adalah sebuah kepura-puraan kita, bak sebuah cerita pewayangan yang sukses kita lakoni, sebuah skenario telenovela yang hanya untuk menutupi sebuah tragedi yang mau atau tidak mau akan kita lakukan,....saya marah, ingin rasanya teriak, .....kenapa itu harus kita lakukan, kenapa,..kenapa, kenapa...dan sampai sekarang pun saya masih sulit untuk menjawabnya....

Siang itu, di aula, di dalam sebuah acara yang sangat sederhana, wajah2 polos, mata2 yang indah, senyum2 yang manis saling bercanda tertawa lepas, menceritakan sebuah cerita yang mungkin baru saja di alami ketemannya yang lain, kayak orang yang lupa kalau dia punya utang bermilyar-milyar.

Sesama kita saling tertawa lepas, saling ngegosip, tapi saya yakin perasaan kita semua waktu itu sedang gundah, kacau atau apalah...yah...siang itu adalah hari terakhir kita berseragam putih abu-abu, hari terakhir kita kalau masuk sekolah via gapura utama mungut dulu dedaunan yang berjatuhan, hari terakhir kita menyebut istilah "era perundagian", hari terakhir kita kejar-kejaran dengan pa Agakhan, hari terakhir kita lompat pagar di belakang kelas 3 ipa, hari terakhir kita upacara bendera di lapangan depan sekolah yang di bagian pengerek benderanya terlalu sempit butuh berhari-hari untuk di biasakan, hari teakhir kita..ahhh...tak sanggup aku menulisnya soub...

Sesaat kemudian mata mata yang indah itu harus memerah karena sedih, sedih berpisah dengan teman yang selama 3 tahun bersama-sama menjalani kisah yang indah, senang, susah dan lain.

Mungkin hari itu adalah hari yang akan saya paling saya benci, dalam seumur hidupku, tapi itulah roda kehidupan, masing2 dari kita punya cita2 dan rencana yang lebih besar, cuman 1 pesan ku untuk MU,..iya KAMU,..eits.jangan lihat kiri kanan, cuma ada saya dan KAMU disini, selalu ingatlah kalau Aku dan KAMU pernah berjalan bersama dia atas rumput sekolah.


Salam

Keterangan foto

panah berwarna hitam, adalah gedung perpustakaan sekolah kita, gedung yang punya kisah tersendiri, kan terkenang sampai kapan pun

panah berwarna merah adalah ruang kelas ku, kelas 3 ips 1.


Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (02)

Nostalgia Masa SMA Kita


tolong di baca pelan2 sambil serumput teh di sore hari.

Pagi 15 Agustus 1996, kalau ndak salah waktu itu,...kita semua sudah berkumpul di sekolah setelah libur panjang semester genap, sekolah sudah mulai ramai, ada anak2 baru yang masuk, jumlahnya masih signifikan, rerata dari luar kota atau yang domisilinya agak jauh dari sekolah kita itu, bahkan di angkatan saya itu ada lho yang dari KAMBARA sana, dulu desa itu asri, teduh dan sejuk, pohon jeruk dimana-mana, yang punya kampung itu kalau senyum,.. aduuuh,..senyum saaaaaaangat manis semanis jeruk nya walaupun sebenarnya sebagian jeruknya ada juga yang kecut, tapi senyumNYA tetaplah manis mennnn. Sekarang saya yakin desa itu yang mungkin sekarang sudah menjadi kota lebih berkembang lagi apalagi daerah itu sudah menjadi bagian dari pemekaran kabupaten muna yang kemudian masuk dalam lingkup otonomi muna barat.

Secara zonasi kalau di persentasekan mungkin lebih banyak murid yang berasal dari luar kecamatan tepat SMA kita itu berdiri, ini mungkin yang akhirnya menjadi stigma sebagian orang-orang kalau sekolah kita itu cuma sekolah buangan, maklum kita bukan anak2 pejabat, bukan anak2 orang kaya, bukan anak2 yang ortunya terpandang punya kedudukan secara strata sosial, yang ada adalah kita2 banyak yang berasal dari keluarga petani atau kalau mau dikastakan hanya dari golongan kasta menengah kebawah. Entahlah kenapa bisa begitu apa karena standarisasi sekolah kita terlalu rendah, karena secara awal berdiri memang skolah kita itu kelanjutan dari sekolah pencetak guru yang dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saya sendiri mungkin angkatan ke 3 atau ke 4 sejak sekolah itu bertranformasi menjadi sekolah umum tingkat atas, toh dengan semua itu kami cuek dan tidak menyurutkan kami untuk tetap bersemangat sekolah walaupun selama 3 tahun kami disana, bukan cuma cerita indah yang kami lalui, ada juga cerita tentang kenakalan, kebandelan, sedih, pokoknya yang khas lah dari anak2 remaja yang kencing belum lurus, yang kalau tidur masih suka bebe ,...hahahah.

Kembali ke soal tanggal 15 itu, saya agak lupa bagaimana bentuk pengumumannya pakai kertas atau di sebut satu satu,..kami kemudian di bagi menjadi 2 jurusan, setelah 2 tahun dari kelas 1 sampai kelas 2 di amati minat dan bakatnya masing anak2 murid oleh pihak sekolah dalam hal ini dewan guru, di putuskan kami di jurusan mana, dan alhamdulillah saya bersama beberapa teman yang memang sejak awal sudah seiya dan sekata masuk ke dalam jurusan IPS, ada Suharto, Ferry, Adang, Alimuddin (ilut), Kaharuddin (Andu), Saiba, Emi Hidayat atau Emi Diana (saya agak lupa, pokoknya nama panggilannya Emi) terus ada Jawaba Nur, Zainal yang dari Tampo itu, Susanti dan beberapa temannya lainnya.

Terus beberapa teman lainnya masuk ke jurusan IPA termasuk 3 perempuan cantik teman sepermain saya dan harto, ada Leni, Purna, Ramlah, lalu ada juga Kahar the king of ........, hahahha. Almarhumah Hamdiah (semoga Allah senantiasa menerangi alam kuburnya, amiin) ada juga DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas (hahay), Dianawati, Sumarna (ehem, ehem) pa ketua Alumni sma 3 angg 1997, Irman, Azim Gani yang dulu rumahnya di ASTER sana, terus pa Hamana (yang satu ini selalu menjadi bahan cerita ke anak2 ku tentang semangat dan perjuangan pantang menyerah), ada juga Rasyidin, Oktavia, Budinem, terus ada juga Surikanti, oh iya ada juga MImi mangkere, Safia terus siapa lagi, coba di tambahkan nanti dikolom komentar.

Saya masuk di kelas 3 ips 1, ruangan kelasnya itu pas didepan gedung perpustakaan ( gedung ini punya kenangan tersendiri, mungkin satu saat nanti kalau saya dikasih kesempatan untuk melihat sekolah itu lagi, yang pertama ingin saya lihat adalah gedung perpustakaan ini), yang sisi dinding dalam ruangan kelasnya itu terbuat dari kaca nako, yang di zaman kami dulu kadang dipakai buat cermin, benarin rambut biar kek om Tomi Page yang artis holiwod itu, satu-satunya ruang kelas kalau ulangan guru tidak menghadap ke murid tapi ke dinding kaca itu, karena pantulannya bisa terlihat siapa yang mencontek, nah di belakang kelas ku itu ada lapangan badminton atau takraw, sedangkan untuk kelas 3 ips 2 ada di bagian yang sejurusan dengan kantor atau ruang BP, ruang terkeramat sejagad alam raya waktu itu,..hahaha.

Lalu untuk jurusan IPA menempati 2 unit ruang kelas yang merupakan ruang kelas baru,.. aseem... kenapa juga mereka di tempat kan di ruang kelas baru itu,...gedungnya pas berseblahan dengan pagar tembok pembatas sekolah dengan alam liar yang juga berfungsi sebagai pintu masuk keluar ke tiga setelah gapura dan yang didepan pintu gerbang SKB, di sebelah tembok itu pas tanah dan rumahnya pa abidin yang punya teras bertehel merah, di teras itu juga punya banyak tercipta kenangan manis disitu.

Selepas tanggal 15 itu kami pun memulai keadaan dengan suasana yang baru, konsentrasi pelajaran yang baru, kami belajar tentang dunia secara luas melalui beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Tatanegara, Antropologi, Sejarah, hingga hingga studi tentang phisikologi manusia pun kamu pelajari melalui pelajaran Sosiologi, anak IPPPS gitu lho,..wawasannya itu tentang dunia mennnnn..sedangkan yang jurusan IPA berkutat di pelajaran 1 + 1 = 2,....monoton di situ-situ saja, tidak belajar tentang mengoptimalkan sumber daya manusia,..saban hari kalau keluar main atau kalau pulang wajah mereka kusut karena menghafal rumus2 kimia dan fisika,..hahahaha.

Tapi bagaimana pun juga mereka tetaplah teman-teman yang pernah menghiasi jalan hidup ku, dari dulu hingga sekarang, saya yakin mereka juga akan berpikir begitu, atau tidak ya...entahlah...hahaha.

Sekitar ruang kelas 3 IPA itu ada rumahnya La Djiba yang punya silat saradiki itu, yang anaknya mirip Novia Kolopaking, suer mirip sekali, kabar terakhirnya katanya dia sudah meninggal, Innalillahi wainailahi rojiun. di depan ruang kelas ipa itu ada 2 atau 3 pohon jambu mente kalau ndak salah kadang kalau keluar main kami lempar pake batu atau kayu terus jatuh di kamarnya pa Kris terus pa kris teriak2 marah2..setelah itu baku tuduh2 semua...

di depan ruang kelas 3 IPA itu juga ada jalan kecil menuju ke belajang lab, tempat yang pernah saya pergoki la andu ngegombal wa yanti tapi di tolak, terus di depan kelas 3 ipa itu ada juga ruang kantin yang tidak di fungsikan tempat saya biasa menunggu seseorang lewat tapi dia mutar di depan lab yang kebetulan saling berhadapan juga gedungnya.

Agak naif memang, tapi akan terus, terus, terus, juga lagi, lagi, lagi sampai saya tiada lagi saya akan bercerita tentang sekolah kita, sampai dimana saya sudah tak bisa menatap kejamnya dunia, sampai saya tak bisa lagi menghirup pekatnya polusi udara.

Bulukumba, tahun ke 22 sejak kami tinggalkan sekolah hebat itu.

Salam

Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (01)



Nostalgia Masa SMA kita

Pintu masuk ada 2, di gapura sekolah yang pas di samping papan nama itu, gapura itu cukup keramat, karena 90 % siswanya jarang yang mau masuk lewat situ, pintu ke dua pas yang berhadapan dengan gapura SKB, sebenarnya masih ada pintu ke tiga, tepatnya di belakang ruang kelas 3 ipa, tapi itu darurat hanya untuk di pergunakan dalam keadaan genting,..hehehe

di samping lapangan upacara ada arena untuk olahraga sepak takraw atau untuk bulutangkis bisa juga, di situ juga dekat dengan tempat parkir motor, ruang kelas kita dihubungkan oleh koridor beratap teduh, sehingga jika kita berpindah kelas ndak kepanasan, kita dulu pake sistem moving kelas, ruang kelas kita cangat refrensentatif untuk belajar, ada banyak ruangan ndak ada yang namanya masuk siang karena ruang kelas cukup.

Ada lapangan sepakbola mini tempat kita semua berolahraga, tempat terjadinya tragedi jalan cepat di pagi hari, lakonnya wa Anu, yang punya rambut hitam berkilau, yang punya mata indah kek penyanyi bule Alanais Morisete, lalu ada ruang kelas ipa, jendela kacanya punya moment manis yang tetap terkenang sampai saat ini,...

ah...DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas

saya awali kehidupan ku di sekolah ini sekitar tahun 1995, bersama teman-teman yang luar biasa hebatnya, walaupun ada beberapa yang kemudian saya kenal belakangan karena pindahan tapi tidak dapat mengurangi rasa sayang dan hormatku kepada mereka, ada salah satu sobat terbaik ku La ode kahar, lalu ada juga dia yang punya Siluet Indah di Depan Kelas Ku dan beberapa lainnya.

Banyak cerita dan kisah tercipta, seperti yang di nanyikan di lagu ini,..nostalgia masa sma masa yang tak akan hilang begitu saja.

Masing2 dari kita sudah terpisah oleh laut, daratan dan cita2,..tapi saya yakin suatu saat nanti kita semua akan kembali bersua, saling berbagi cerita dan pengalaman, saling berbagi hal yang sudah terlewatkan di 20 tahunan ini....

Salam rindu ku untuk kalian semua

Zulham Efendi Alumni SMA 3 Raha Angg 1997

Nama ku Maryam

Nama ku Maryam

Hari itu saya ndak langsung pulang, tinggal dulu barang beberapa jam di Masjid Nabawi sampai matahari mulai menyinari pelataran masjid, perlahan-lahan satu persatu payung-payung yang ada di pelataran itu mulai terbuka seiring dengan sinarnya  yang menyinari lantai marmer berwarna putih, badan masih terasa lelah, maklum mulai jam tengah malam kami sudah harus berjibaku berebut tempat di tempat  yang Rasulullah katakan sebagai Taman-Taman Syurga, ya...apa lagi kalau bukan Raudhah,...suatu tempat di masjid yang posisinya antara mimbar dan rumah nabi yang sekarang berubah menjadi makam Rasulullah.

Suhu seperti siang hari kemaren, masih panas walapun jam baru menunjukan pukul 1/2 7 pagi, ku tutupi hampir seluruh wajah ku dengan sorban yang baru saya beli beberapa hari yang lalu, sedikit bisa mengurangi dampah hawa yang lumayan tidak bersahabat ini, lalu terdengar suara menderu-deru di tiang2 payung halaman masjid, rupanya kipas2 yang terpasang di masing tiang itu mulai berputar menetralisir suhu yang mulai naik secara perlahan.

Langkah ku masih gontai, wajah ku tertunduk tak memandang sepanjang beberapa meter, maklum lantai marmer yang berwarna putih itu sedikit menyilaukan pandangan mata ku.

Yang saya perhatikan, di masjid Nabawi, hampir mereka yang bermukim sekitar masjid menjadikan masjid sebagai tempat wisata religi mereka, saya sering menemukan beberapa keluarga mengelar tikar dan karpet mereka lalu lesehan begitu saja di lantai halaman masjid di temani dengan beberapa anggota keluarga lainnya, bersama mereka tentu saja aneka makanan dan minuman, persis kayak kita2 yang pergi piknik di tempat wisata.

Ternyata yang saya tidak sadari adalah sepasang mata indah, berbulu mata lentik memperhatikan langkahku yang sedikit gontai itu, kek tidak punya semangat lah, saya betul tidak memperhatikannya hingga ketika saya melewati kumpulan mereka, seorang anak kecil menarik baju ku dan memberikan seuntai tasbih berwarna biru menyala, lalu saya mendekati kumpulan keluarga itu, saya tidak melihat ada lelaki dewasa disitu selain anak kecil tadi, adanya seorang ibu tua, seorang anak perempuan kecil mungkin sodaran sama anak laki kecil tadi dengan seorang wanita dewasa yang walapun dengan tampilan cadarnya saya masih bisa mencuri pandang bulu matanya yang lentik dan jemarinya yang putih mulus tak bercacat,..sweet, sweet...




"thank you, my name Zulham Efendi from Indonesia", saya memulai dan mengarahkan percakapan ke wanita dewasa itu, tidak ke ibu tua itu karena dia sedikit sibuk dan larut dalam lantunan dzikirnya menggunakan untain tasbih yang sama yang di berikan oleh bocah itu, lalu keadaan membisu, mungkin ada rasa grogi diantara mereka, mungkin mereka tidak pernah di sapa oleh pria ajnabi selain keluarga mereka, atau mungkin  grogi karena ke machoan ku ini,..hahahaha...

"This for you, do not exchange", (dengan intonasi nada yang dipaksakan, maklum ndak faham sama bahasa inggris ini) sambil saya sodorkan selembar duit berwarna merah muda "do not exchange" saya mengulang perkataan saya, lalu saya menatap sedikit wajah wanita muda itu, dia mengangguk, entah..apa dia faham atau tidak, lalu saya kembali gontai melangkah...

Tak berapa meter terdengar "my name Maryam", sambil dia melambaikan tangannya.

Saya balas lambaian tangannya..."ya...thanks for (sambil saya ancungkan tasbih pemberiannya itu) Assalamu alaikum (lanjut saya)

Dia tak membalas salam ku, cuma kembali melambaikan tangannya.

Sejurus kemudian, set...zul, zul,..kenapa kamu tidak mengajak lebih banyak dialog dengan wanita itu, hati ku membatin, tapi kemudian saya menyadari antara saya dan mereka ada kendala keterbatasan bahasa, lalu saya menggurutu, kenapa dulu saya ndak serius ambil kelasnya ibu Nurjanah, mungkin saja saya tak bersusah payah melafalkan beberapa kalimat bersumber dari Google Transate,...heheheh.

ah sudah lah,..jadi fitnah kalau saya pikirkan terus..mending terus melangkah keburu matahari makin naik...

Hari ke 23 Bulan ke 6 tahun ke 2019 di Madinah Kota Nabi

Catatan : wajah perempuan bercadar itu cuma pemanis tapi foto tasbih itu real pemberian Maryam

Kam Hu Ya Akhi

Kompleks Pertokoan Di Madinah
Kam Hu Ya Akhi, Kam Hu Ya Akhi, Kam HU Ya Akhi,...3 suku kata arab itu terus saya ulang2 sepanjang pagi ini, setelah berjuang mencari jaringan internet yang bagus untuk membuka Google Translate buat mencari kosa kata arab Berapa Harganya Sodaru Ku, yang dalam bahasa arabnya ya itu,..kam hu ya akhi.
Planingnya hari ini, mau belanja untuk pertama kalinya di tanah arab, rencananya mau beli sorban yang sejak kemaren sore sudah saya senter-senter jauh, warnanya coklat, sepadan dengan baju dan celana saya yang juga berwarna coklat, pemakain sorban bukan untuk gaya-gayaan supaya di bilang ke arab-araban, tapi murni karena di butuhkan untuk meredam teriknya sengatan matahari di kota Madinah yang bisa sampai 48 derajat celcius.
Kam Hu Ya Akhi, kembali saya mengulang 3 suku kata itu, biar fasih ucapnya biar juga di bilang nggak mudeng2 amat dengan bahasa arab,..wkwkkw.
Jam sudah menunjukan pukul 09 pagi waktu Madinah Al Munawarah,..sip ..sudah siap nih...lalu kaki melangkah mantab ke sebuah toko yang memang posisi toko itu tepat berada di depan hotel, memang ada teman yang sudah memberi tahu untuk tidak berbelanja di toko yang berada tepat didepan hotel, karena harganya biasa 2 kali lipat dari harga di pasar2 di kota Madinah atau di Mekkah pada umumnya, tetapi saya sudah ndak tahan dengan udara dan terik matahari, penggunaan sorban paling tidak bisa meredam sengatan terik matahari yang cukup membuat bibir dan kulit wajah pecah-pecah dan terkelupas.
Agak ragu sih mengucapkannya maklum kosa katanya terasa sedikit agak aneh, tapi dasar pengin di bilang familiar dengan bahasa arab, tetap saja memaksakan mengucapkannya di depan penjual sorban itu.
Saya : kam ya akhi (dengan mimik wajah dibuat kearab-araban, bagaimana bentuknya pikirkan sendiri soub,..heheh, sambil ngeelus-elus sorban yang sudah saya lihat sejak kemaren sorenya)
Penjual Sorban : ini murah bos, cuma 15 riyal, silahkan di coba, cocok dipakai sama bos
Saya : @#$%%^%^$%@#$^%&^&^&%,..... (ngemaki dalam hati,...cesssss....ana sikolah ini eee...sudah payah ku hafal ini kosa kata, pake kejar2 jaringan lagi,eh na kasih bahasa Indonesia ka)....
Sejurus kemudian baru saya sadari kalau dunia ini memang sempit,...Indonesia punya tenpat tersendiri di negeri arab, dan memang di beberapa tempat di papan2 petunjuk di instalasi milik pemerintah dan swasta selalu terselip beberapa kosa kata bahasa negara kita, bahkan tak tanggung2, aparat2 keamanan dan petugas2 masjid fasih melafalkan beberapa kosa kata atau kalimat menggunakan bahasa Indonesia, yang pernah ke 2 tanah suci ini pasti sangat tau sekali, kalau saban waktu akan terdengar polisi atau askar disana bilangnya "bapak tolong minggir, ibu silahkan duduk, yang perempuan sebelah sana, yang laki2 sebelah sini, dan lain2".

Petunjuk Bahasa Indonesia Di Arab Saudi

... dalam hati akhirnya saya bangga menjadi warga negara ini. Salam 2 jari... Hari ke 22 Bulan ke 6 tahun ke 2019 di Madinah Kota Nabi

10 Ribu km, Diatas Permukaan Laut




Kemaren,   Di atas 10 ribu meter dari permukaan laut

Assalamu alaikum soub, ..

Di perangkat menunjukan tanggal 20 juni 2019 jam 18.40 (masih bawaan waktu Indonesia) ya seyogyanya sudah mau  menjelang malam, kalau di darat  (di Indonesia), keadaan sudah mulai gelap, tapi tidak kali ini soub, dari ketinggian 10 ribuan meter itu, kami mulai memasuki perairan laut arab, itu terlihat dari peta layar di pesawat, dan dari balik jendela cuman ada hamparan awan putih seputih kapas, keadaan cerah, mentari bersinar dengan teriknya, kalau waktunya di conversi, di pesawat mungkin kam sementarai di jam 12 siang, karena kita punya perbedaan waktu yg cukup mencolok, jadi itu bisa terjadi, (di Indonesia  sudah gelap gulita, kami disini masih terik)

Sesekali terjadi goncangan, tapi masya Allah, di moment itulah kami begitu dekat dengan Allah sang Khalik, lantunan dzikir tak henti2 nya terucap, dan Alhamdulillah, Allah senantiasa menjaga hamba2 nya yg ikhlas.

Rasa ngantuk begitu mendera, mau tidur juga rasa nya gimana gitu, kupandangi wajah teman duduk ku..(pa Zaenal), matanya merek melek, itu artinya dia sedang susah tidur, apatah lagi saya...lagian saya sudah menghabiskan 2 cangkir kopi susu buatan sang pramugari..hahay

Sempat di bandara tadi mau ajak kopdaran sobat lama ku Haikalsulaiman Adidoya sayang beliau ndak punya waktu, mau ajak kopdaran saudara ku La Ode Kahar kek nya jawabannya juga bakal sama, ya sudah nanti lain waktu saja...

Alhamdulillah, segala doa kebaikan senantiasa tercurah untuk pimpinan kami, orang tua kami, bapak Haji Sahar Sewang sekeluarga, yg kebetulan  beliau ,  ibu dan 2 putranya,  bersama dalam rombongan kami, semoga beliau dan keluarga senantiasa di beri kesehatan dan semoga apa yg telah di berikan ke kami akan membuahkan amal jariah di akhirat kelak, Amiin...

Masih dari balik jendela, hamparan awan putih masih membentang, di balik latarnya  juga terhampar laut biru nan luas, tak henti2nya kami memuji Mu ya Allah,...

Sedikit demi sedikit, bibir pantai sudah mulai terlihat, aku tak bisa memfotonya soub, resolusi kamera nggak sanggup untuk mengambilnya, kalau saya paksakan hasil akan jelek, jadi ya...di bayang2 saja kek bagaimana bentuknya (saya tetapkan lampirkan foto panoramanya)

Yang jelas dari tampilan atasnya kayaknya kami sudah berada di daratan jazirah arab, hamparan warna putih ke abu2 an menandakan itu adalah padang pasir..

Dan masya Allah, tulisan ini saya harus hentikan, karena ada sang Pramugari nawarin makan siang..heheh...ok soub

Nanti saya lanjut lagi
----------------------
Madinah kota Nabi Jumat 21 Juni 2019 jam 07.02 pagi

Aku dan Kamu Dalam Satu Rasa



Dalam satu waktu yang terus bergulir, kadang aku hanyut dalam khayal dan lamunan ku, terbersit masa-masa itu, masa-masa yang selalu membayang di mataku, selalu hadir bagai jelangkung yang tamu tak di undang dan pergi tak bilang-bilang.

dan Kadang kubiarkan hal itu, sembari berkata, ah....itu bagian dari hidup kan...indah, indah, indah dan indah....

Aku ingat persis kalau itu, kamu selalu ada dalam setiap langkah ku, suer deh,...belahlah dada ku kalau kamu tak percaya.

Dan aku mencoba untuk bisa selangkah demi selangkah dengan mu, aku tau langkah mu pendek dan aku pun memperpendek langkahku, walaupun aku kadang ingin memperpanjang langkah, tapi sungguh aku tak sanggup, sisi terdalam dari ruang batin ku selalu berbisik,....Sanggupkah aku berbuat itu.

Lalu dalam sejurus kemudian aku selalu berdoa.

ya Rabb...

tetap satukanlah rasa itu antara aku dan dia.
Damaikan dia dalam setiap khayal rasa rindunya terhadap ku
Damaikan aku juga dalam setiap khayal rasa rinduku terhadapnya.

dan semakin lama aku terjebak dalam kotak khayal ini, aku menjadi yang sulit untuk keluar, aku hanyut dalam buaian asmara. Dan semakin jauh, aku semakin terlena...

dan sekali lagi, cuma satu minta ku

RINDUKAN AKU

Bulukumba, hari ke 28 bulan ke 4 tahun ke 2019....

SENJA DI TANJUNG BUNGA



"Lemah langkah kaki berayun, sedih bergelayut, tanya menumpuk. Tidakkah kau iba pada rasa yang telah lama aku pelihara ini? Malam mulai likat, aku pulang membawa sekantung luka"

***

Kapal baru sandar di dermaga, buruh pelabuhan lincah melompat ke body kapal tanpa takut terpeleset jatuh ke laut, atau paling parah terbentur beton dermaga dan cedera. Bahu kekar, tangan berurat, wajah keras, melukiskan kerasnya hidup untuk dilalui. Aku sendiri berdiri di pinggir dermaga menanti sosok yang sedari tadi aku tunggu. “Ham, jemput saya ya. Bawaanku banyak. Maklum cewek. Hehehe.” Tawanya renyah di ujung pulau. Aku menunggu perempuan yang telah sama-sama menikmati lucunya masa bermain, bandelnya masa sekolah. Akan tetapi, apakah dia juga merasakan indahnya masa jatuh cinta? Aku bertanya-tanya.

'Sepertinya semua ini isi lemarimu ya. Cewek kalau kemana-mana apa memang serepot ini?' bibir mungilnya cemberut, membuatku ingin mengecup bibir manja itu agar tak kesal lagi. “Ham, besok-besok kalau kamu sudah punya istri pasti lebih banya lagi bawaannya. Jadi, anggap saja belajar ya?” Matanya mengerling, tangannya merangkul lenganku mesra. Nyut, seketika jantungku. Duh, tidakkah kau dengar gaduh jantungku yang ingin mendobrak dadaku? Jika perempuan yang menjadi istri itu kamu, tak mengapa jika seisi bumi pun kubawakan untukmu. 

Belum mati mesin motor, dia sudah melompat dan berlari menuju pintu rumah. Semangat mengetuk pintu dan memberi salam. Sesaat kemudian wanita setengah abad keluar dan langsung sumrigah melihat putri bungsunya di depan pintu. Permata keluarga telah kembali dari perantauan menimba ilmu, pulang ke kampung halaman untuk membantu memakmurkan desa. 

Aku tergopoh-gopoh membawa beberapa tas. “Senja, kamu itu ya. Lihat Irham kepayahan membawa barang-barangmu.” Tante Sri memarahi putri bungsunya. Dia cuma menjulurkan lidahnya dan berjalan mendekatiku, “Bu, lihat otot-ototnya ini. Rumah Ibu saja ini bisa diangkat dan dibawa-bawa.” Katanya sambil meremas otot bisepku. Aku tersenyum. Candanya selalu saja renyah tapi ada juga pilu yang berdenyut di dadaku. Tante Sri iba melihatku dan menawarkan mampir dulu beristirahat dan menikmati secangkir teh. Aku menolak sopan karena sore mulai hilang sebentar lagi gelap menyelimuti. Aku pamit pulang, Senja mengantarku sampai di motor. Aku berlalu dan dia masih melambai. Malam yang mulai turun ini aku bahagia karena senja sama-sama datang.

***

"Kupungut keping-keping rindu di lantai kamarku. Menyusunnya dalam bejana yang mulai kusam. Aku menghitung dan mencari potongan-potongan kenangan. Bilakah dada ini mulai gemuruh ketika menikmati renyah candamu? Akan tetapi, tak kulihat kau merasakan gemuruh yang sama. Ataukah kau menyembunyikannya apik di sudut hatimu? Aku bertanya-tanya"

Pagi baru mau mendaki, ibu memanggil dari balik pintu kamar, “Ham, ada Senja menunggu di depan. Katanya mau ketemu.” Aku bergegas, mandi dan pakaian yang rapi, tak lupa memakai parfum agar tak malu jika aroma tubuhku mengganggu pernapasannya. Aku segera keluar menemui gadis berparas lembut yang selalu mengganggu tidurku. 

“Lagi jatuh cinta ya? Wangi beneeeer,” katanya tiba-tiba. Aku gelagapan, dia cuma tertawa, aku tertegun. Dia langsung menarik tanganku mengajakku keluar. Setelah berpamitan pada ibuku, kami melaju dengan sepeda motor andalanku. Kamu duduk di boncenganku, merangkul dari belakang sambil bercerita tentang masa-masa kuliahmu. Aku cuma mendengarkan sambil menahan napas takut degup jantungku terdengar olehmu. Seharian itu kami cuma berkeliling kampung, mengunjungi tempat kami bermain dulu, dan tempat-tempat lain yang banyak mencipta kenangan. Terakhir kami duduk-duduk di dermaga. Menunggu jingga berpendar. Seperti namamu, kamu suka senja. Lembayung yang menyelimuti langit sangat cantik. Akan tetapi, kamu yang tercantik. Kamu duduk bersandar di bahuku, mata terpejam, bibirmu menyungging senyum, anak rambutmu bermain saat ditiup angin. Aku harap waktu berhenti saat ini agar senja tetap bersamaku.

***

"Aku duduk di dermaga, memejamkan mata, menikmati sepoi dari laut menerpa wajahku. Matahari berayun, pantulannya di laut sangat indah. Seperti biasa langit menjanjikan jingga di penghujung senja. Damai dan tentram tapi tidak dengan hatiku. Ada gelisah yang belum terjawab"

Seminggu yang lalu, di tempat yang sama aku memberanikan diriku mengungkapkan isi hatiku. Kegelisahan kelelakianku setiap kali berada di dekatmu. Banyaknya kepingan-kepingan rindu yang selalu aku simpan. Semua tumpah ruah di hadapanmu. Kamu diam, sendu matamu melihat ke dalam mataku. Baru kali ini aku tak tahu apa arti tatapanmu. Tak menunggu Senja datang, aku mengajakmu segera pulang. Di halaman rumahmu, sebelum kamu berpaling, lirih suaraku memintamu datang ke dermaga seminggu lagi dan aku meminta jawabanmu. Kamu masih diam, segera berpaling dan masuk ke rumah meninggalkanku dengan perasaan yang semakin tak karuan. 

Aku masih menunggu kedatanganmu. Besar harapku kau menerima dan membalas rasa yang sederhana ini, walau sangat rumit aku ungkapkan. Akan tetapi, Senja yang sudah datang tak menunggumu datang. Dia sudah akan berlalu sedang dirimu tak kunjung menyapanya. Malam yang mulai turun ini hatiku kecewa, senja datang tapi tidak dengan Senjaku. Tanyaku akhirnya menemukan jawaban. 
 

Copyright 2018 My Chapter: 2019 Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About