Elegi Rindu



Pagi masih hitam. Riuh kokok pejantan memaksa malam melepas tangannya bersedekap. Berebut menggaduh debu yg lindap terguyur hujan semalam. Dingin dan lembap.

Menghitung altokumulus hingga pada bongkahan yg disapa kebisuan pelan-pelan. Kupetik satu yang paling besar mengantonginya di saku baju. Serat-seratnya larut krn panas kuku tubuhq. Resap sampai dingin menyumsum jiwa tenang seharian.

Matahari hidup, rizki dilepas, liar bertualang. Kau titip doa pada urat punggung tanganq. Sendu matamu menembung harga diri kelelakianq. Kudapati syahdu doa menghangat di sudut matamu. Lesap di bibirku.

Terik di atas kepala membunuh setengah usia. Mengeruk liar petualangan rizki hingga jauh membawa diri. Gadisku rindu di depan pintu, anak kecil bersenda-senda, menumpuk batu dan menjatuhkannya lagi. Sungguh tak terperikan sebongkah rasa yang entah makin membesar. Pikir nelangsa mengingat titipan doa. Cepat kembalikan hati beranjak menemui keharusan diri.

Hidup tak pernah lebih manis daripada gula, senyummu akan memaniskan hidup. Sepenggal kalimat sakti dari entah menjadi tonggak ketika kopi makin pahit. Surya beralih jingga datang mega tenang. Hanya gaduh gir peralatan kasar, teman menyesap kopi sesaat senja berpamitan. 

Malam mendaki, hasrat tak bersahabat. Desir napas membuncah, tak pelak hati gusar menghitung jarak. Pewaktu lambat rindu menggeliat. Besar asa malam ini dapat mereguk cinta bersama.

I Love You Ummi

Disini Saya Berdiri.


Sudah tanggal 15 bulan 12, beberapa pekerjaan laporan saya kebut habis-habisan, waktunya sudah lewat memang, sudah mau masuk pertengahan tahun, sudah mau berganti tahun lagi malah, maklum seabrek pekerjaan berbau kertas dan tinta pena cukup menyita waktu dan perhatian ku kalau sudah mau masuk akhir di setiap bulannya, dan akan berlanjut terus ke bulan berjalan berikutnya, dan Alhamdulillah beberapa pekerjaan laporan sudah saya selesaikan, hampir 5 jam saya berada di depan layar monitor meneliti setiap angka dan huruf yang saya harus laporkan, di temani kopi nikmat yang sudah bercangkir-cangkir  putus sambung dari tadi pagi, kopi dengan sejuta #PanduanNikmatRasaMantab, hehe..

Beberapa waktu yang lalu, berada di depan monitor komputer secara marathon cukup melelahkan, lelah mata dan fisik, bayangkan saja kalau harus duduk sampai 3 atau 4 jam, jemari tangan menari diatas keyboard, mata pun jelalatan plototin layar meneliti setiap angka dan huruf agar tidak salah, dan walapun sudah seperti itu, eh masih tetap saja ada yang salah, kadang datang komplain dari pemeriksa di kantor pusat,.."pak Zulham...ada ini toh pak, halaman sekian,..bla, bla, bla dst", sahut seseorang yang bersuara agak merdu dari balik telpon genggam, kalau sudah seperti itu, settres lah, bayangkan saja duduk sudah berjam-jam, jari, mata sampai pikiran tercurahkan eh,..masih salah juga, sampai disini saya sering membatin "andai nih makhluk ada didepan ku, saya plototin habis juga nih, biar impas,..hahaha". Tapi sampai sore ini rasa lelah itu tak saya rasakan, apa efek dari kopi yang saya minum ini ya, yang katanya mengandung 7 elemen yang kaya akan khasiat, saya bolak balik lagi kemasan sachetnya, oh iya ternyata memang banyak mengandung bahan2 herbal yang sangat bermanfaat bagi tubuh, hemmm...rasanya pas bangat nih, kecanduan ku pada kopi bisa menjadikan itu sebagai sebuah obat yang ampuh untuk mengatasi beberapa keluhanku,..hehehe, thanks sahabat,...rekomended bangat nih..

Lalu sekilas saya tengok ujung kanan paling bawah di layar pc ku,..oh tidak jam sudah menunjukan pukul 4 sore, kalau hitunganku benar kurang lebih 2 jam lagi Senja yang bukan SENJA ku akan tenggelam masuk kedalam peraduannya, berganti dengan pekatnya malam dingin, apalagi sekarang sedang masuk musim penghujan,..wah...harus bergegas nih, ntar telat lagi kayak kemaren.

Dan,..Disini Saya Berdiri, memandang warna jingga indah yang menyejukan mata, lalu sesaat saya berkhayal, senja ini indah, apatah lagi SENJA ku,..hahaha.

Tapi Senja ini bukan SENJA ku.

Saya masih disini, berdiri tegak dengan nafas yang teratur, terus memandang warna jingga itu yang makin tenggelam masuk ditelan oleh pasak-pasak bumi yang berdiri kokoh, dan andai bisa, saya ingin berbisik, "tolong jaga Senja, karena saya masih ingin melihatnya lagi besok"

Kenangan di Peti Kayu




Waktu membilang. Melangkah panjang-panjang. 
Tetiba kita pada dua puluh satu. 
Seperti gemulai remaja-dewasa mulai nampak. 
Pun gejolak pertalian kita.

Ingin kupatah jarak. 
Cengkrama di beranda membagi kisah akan kita simpan dalam peti kayu yang makin tua.

Duh, pelita kecil mengerlip dipermainkan sepoi-sepoi. 
Ada kegembiraan yg kau bawa bersama. 
Tidakkah kau tau, menikmati waktu yg ditunggu berdua sangat membahagiakan daripada larut dlm kerlipanmu sendiri. 
Kita menyaksikan burung gereja bersenda. 
Pun kita menuliskan ingatan. 
Apakah itu tersimpan dlm peti kayumu?

Kamu, gadis. Pelengkap kekariban ini. 
Diam dan lembut mengundang tanya. 
Tapi tidak denganku. 
Maukah mengajari gelombang hertz dari galaksi yg selalu kita dengarkan?

Bukan tanpa alasan kita dipertemukan kembali  dlm forum tanpa tatap muka ini. 
Karib, waktu yg pernah terbuang jangan pernah terulang. 
Bagi ceritamu, senang atau susah. 
Kita simpan dlm peti kayu yg makin tua, tp tdk dengan pertalian kita.

source pict copas internet
 

Copyright 2018 My Chapter: 2018 Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About