Pesantren Itu 11 12 Dengan Ikan Asin


Kalau kamu cuma baca judul, saya yakin semua sumpah serapah mu akan kamu alamatkan ke saya, walau saya ndak kasih kode pos...hehehe...jadi gini soub, di baca pelan2 baru komentar, kalau di baca Alhamdulillah, kalau ndak di baca,..ya dibacalah....itung2 menghargai teman mu ini yang sudah payah membuat postingan yang panjang kayak surat kabar, itu lagi surat kabar ndak sepanjang status saya ini...hehehe.

Beberapa waktu yang lalu istri saya menelpon, seperti biasa istri saya itu kalau menelpon lamanya luar biasa bisa sampai habis cas hp cuma untuk menjawab telponan dia, tapi sebagai wanita yang ditinggal jauh sama yayanknya wajar saja kan, dan saya pun senang, maklum kami sekeluarga cuma bisa kumpul sekali sebulan, itupun dengan durasi 2 atau 3 harian, jadi buat teman2 yang sehari-hari bisa kumpul sama keluarga maka bersyukurlah.

Dia cerita tentang pendidikan anak2, soal sekolah umum dan pesantren, dia agak kesal dengan ibu teman anak sekolahnya yang cerita terlalu berapi-api soal pesantren, kesalnya bukan soal pesantren yang bagus, bukan, bukan itu, kalau itu kami faham dan sangat bersyukur sekarang pesantren adalah salah satu intitusi pendidikan yang tidak bisa lagi di pandang sebelah mata, yang kesalnya itu, si ibu terus saja mempromosikan agar anak kami di sekolahkan di pesantren, seperti rencana dia yang mau menyekolahkan anaknya di pesantren, istri ku sudah kasih penjelasan kalau pesantren itu sekarang adalah sekolah elit, kenapa di bilang elit, biaya untuk masuk sekolah pesantren itu ndak boleh tanggung2, kudu serius disitu, tapi dasar itu ibu yang hanya melihat sesuatu dari sudut pandangnya saja,..memangnya orang hidup harus berdasarkan sudut pandang kita ?, ndak kan....istri ku jelas menolak, kami berhitung biaya, maklum kami adalah keluarga ekonomi pas2 an, bisa makan sehari itu sudah syukur...ibu wajar mau menyekolahkan anaknya di pesantren karena ekonominya baik, apalagi sekolah pesantren yang rencana mau dia sekolahkan anaknya itu masuk dalam kategori pesantren terbaik di wilayah sulawesi selatan, coba deh teman2 sekalian searching di google biaya2 yang harus dikeluarkan jika anak mau disekolahkan di pesantren, dan kami tidak mengatakan kalau pesantren itu jelek, hanya saja harus pake pertimbangan kalau mau melanjutkan sekolah disitu, terutama itu pertimbangan biaya dan minat anak2.

Ibarat kata pepatah, banyak jalan menuju roma, maka banyak pula jalan kebaikan yang bisa di tempuh ndak melulu dari pesantren atau sekolah umum, ceritanya ini fifty fifty, sekolah di pesantren bisa menjadikan anak kita bertakwa dan sukses, tapi jangan bilang kalau sekolah di sekolah umum anak2 tidak akan menjadi anak2 yang bertakwa dan sukses, begitu pula sebaliknya.

Sekarang pesantren telah berevolusi menjadi sekolah yang benar2 harus di perhitungkan, banyak kok lulusan pesantren yang telah menjadi orang2 sukses di negeri ini, hanya saja jalan kesana itu tidak mulus bagi semua orang, itu yang harus kita pikir juga, nasib orang ndak sama brow,..kamu kaya bebas semau kamu, lalu jangan samakan dengan orang lain, kalau kamu mau samakan saya cap kamu orang sombong...

lalu kenapa saya harus bilang 11 12 dengan ikan asin, dulu ikan asin itu adalah lauk yang dipandang sebelah mata, penggambaran nya kalau sudah ada ikan asin di atas meja, sudah krisis itu keuangannya,..itu dulu, sekarang ikan asin adalah salah satu lauk pauk kelas elit, beberapa hari yang lalu saya ke pasar, mencoba menawar ikan asin...50 ribu cuma dapat 5 ekor ikan asin ukuran sedang, itu lagi kalau masim hujan kayak sekarang harganya bisa lebih bengkak lagi.

Jadi baik pesantren atau ikan asin, sudah mengalami pergeseran nilai dan pengertian, jika dulu pesantren dan ikan asin dipandang remeh, sekarang persepsi itu sudah berubah...

Soo...apa pendapat mu..?

Salam

Syukur


Syukurin saja apa yang ada, nasehat klasik sejak zaman dahulu kala, Islam paling ketat mengajarkan rasa syukur pada umatnya, hanya saja sebelum rasa syukur itu ada tawakal dulu, berdoa dan berusaha, paling tidak niat untuk berubah itu ada, lalu sisanya serahkan pada Allah yang maha kuasa yag mengatur hidup dan kehidupan setiap makhluk yang bernafas di muka bumi ini, apa yang di putuskan oleh tuhan itulah pilihan terbaik untuk kita, proses nya itu tidak terjadi dalam rentang sekali dalam seumur hidup kita, tapi terus berputar dalam aktifitas keseharian kita, detik ini kita berbuat maka di detik berikutnya kita di tuntut untuk berbuat lagi, maksudnya gini, hari ini kita bekerja dan menghasilkan sekian-sekian, itu sudah upaya maksimal maka syukuri apa yang di dapat, besok kembali dengan hal yang sama, hasil hari itu,  itu lah apa yang sudah Allah putuskan untuk kita.

Tapi kadang soub, kita jadi kurang menempatkan persepsi syukur ini, dan sungguh tak lazim buat saya pribadi , saat saya, kamu, atau yang lain, berada di zona yang nyaman, lalu ada saudara kita mungkin karena kurang beruntung, seharian bekerja keras dengan segala daya dan upaya dia, lalu di a terjatuh dalam sakit karena aktifitasnya, lalu kita dengan santai bilang, brow...mencari nafkah silahkan, tapi jangan bernafsu dunia tidak di bawa mati, syukuri saja apa yang ada, bla, bla, bla dan kalimat lainnya....rasanya gimana yah,..kok seakan-akan kita jadi bijak begitu mengajarkan rasa tentang rasa syukur pada orang, semua orang pasti bersyukur, tapi nggak segitunya juga sampai bilang dengan bahasa untuk melemahkan perjuangan dia, ada seorang abang  becak misalnya nih  siapa tau saja memang pada waktu itu dia ndak dapat muatan, dan pas dapat muatan hujan sedang deras2nya, sebagai seorang pekerja hujan bukan halangan dia untuk menarik becak yang berisi muatan itu, lalu ternyata dia jatuh sakit karena berhujan-hujan itu, lalu kita yang berada di nasib yang berbeda dengan abang becak itu santai mengatakan seperti kalimat2 diatas,.kekira gimana yah perasaan abang becak itu,...dia behujan-hujan itu itulah usaha dan perjuangan dia, dia sakit itu adalah sebuah konsekuesi, apa yang dia dapatkan itulah ketetapan dari Allah, baru disitu disebut syukuri yang didapat pada hari itu..

Paling elegant kalau kita bilang begini, "tetap semangat brow, jangan pantang menyerah dan mudah2 an cepat sembuh"...

Yang mau saya bilang..saya pribadi itu paling malas dengan ajakan bersyukur dari orang yang hidupnya berada di zona nyaman yang hidupnya tak pernah ada masalah berarti, apalagi dengan bahasa yang melemahkan semangat untuk berjuang....

Ada teman dia bikin lebih detil lagi ...

"Pendapat ane tentang syukur yg sering dikatakan orang2 sekarang seolah2 sebuah ajakan agar orang yg mengalami ketidak beruntungan itu tidak boleh protes, berontak, dll.

Saya pribadi pernah marah kepada teman saya yg mengatakan sabar serta bersyukurlah kepada bawahannya, yang saat itu bawahannya protes karena ketidak adilan..

Saya katakan kepada dia, bahwa kamu minta mereka bersabar dan bersyukur agar kamu tidak diprotes khan???, jadi kita tidak perlu diajarkan bagaimana itu sabar dan syukur yg sebenarnya..

Mereka2 yg sdh diposisi nyaman hanya bisa berteori atau berbicara,

Tetapi ketika mereka merasakan pahitnya hidup atau merasakan ketidak beruntungan itu mereka mengeluh, menganggap tuhan tidak adil, negatif thingking pada orang lain, bahkan naudzubillahi min zaaliq, jalan haram pun dilibas demi sebuah keberuntungannya."

Saya mau mencoba membawa ke konteks kekinian,..pak presiden Jokowi meminta kita untuk bersyukur dengan pertumbuhan yang hanya mentok di angka 5 %, itu pun koma-komanya ndak sampai 10...kisaran 5.0,2 % (pake desimal lagi di belakang angka 5 nya), saya mau bilang hidup ini kejam brow....di tingkat bawah, beberapa item sudah merangkak naik, teman saya yang punya usaha pres ban mengatakan kalau harga karet tempel naik, makanya dia kasih naik juga ongkos pres ban, yang tadinya cuma 30 ribu untuk 1 ban menjadi 35 ribu per ban.

Berani protes nggak kita kalau sudah Pak Jokowi yang bilang "ayo bersyukur"...


Salam 

Kita Hidup Hanya Untuk Sebuah Persaingan

Kita Hidup Hanya Untuk Sebuah Persaingan


Konotasinya kayak sedikit agak negatif didengar, skeptis,apatis,pragmatis dan is is lainnya,  dan saya agak lupa dimana tepatnya saya dapat penyataan seperti itu, dan saya rasa ada benarnya dan ada juga salahnya, benarnya adalah memang betul kalau kita terlahir didunia ini karena terbantukan oleh ide dari persaingan itu, kita ndak bicara konteks agama disini, karena jelas posisi manusia ada didunia ini hanya untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT.

Dimulai dari persaingan pria untuk mendapatkan cinta seorang gadis, dia bersaing dengan mungkin beberapa perjaka  atau mungkin ada juga duda disitu yang juga mendambakan gadis itu (itu kalau dia gadis, kalau dia janda maka sebutannya dia bersaing untuk mendapatkan cinta dari janda tersebut), begitu pula sebaliknya, sang gadis mungkin bersaing dengan beberapa gadis, mungkin juga dengan beberapa janda untuk mendapatkan cinta dari pria idamannya, lalu setelahnya mereka menikah, terus mungkin kita berpikir ndak ada lagi persaingan disitu, yah jelas masih adalah, kita bersaing dengan jutaan sel sperma untuk mencapai tuba valopi berenang dengan bersusah payah mencapai sel indung telur, yang lalu lahir lah kita, lalu mungkin kita berpikir, sudah tak ada persaingan lagi disitu, saya bilang masih ada soub, kita bersaing dengan siang dan malam, bersaing dengan waktu bersaing dengan aneka bentuk kehidupan dan karakter manusia lainnya, hingga akhirnya menjadikan kita manusia yang berguna untuk semua.

Kalau kita ndak ganteng kita ndak dapat istri yang cantik, kalau kita ndak cantik ndak dapat suami yang ganteng, kalau kita ndak pintar kita ndak naik kelas, ndak dapat pekerjaan dan seterusnya, hingga akhirnya kita hidup untuk sebuah perlombaan.

" Saya sedikit cerita tentang anak ku yang pembagian rapornya kemaren tidak mendapat rangking, tapi nilainya tidak jelek2 amat, ada raut rasa sedih disitu, takut kena marah saya dan Umminya, tapi saya bilang begini "nak....ayah mu ini sejak dulu ndak mempersoalkan kamu dapat rangking atau tidak wong ayah dulu 3 tahun di sma belajarnya cuma 1.5 tahun, dan itu tidak penting nak sepanjang ilmu yang kamu dapatkan di sekolah bisa kamu terapkan dalam kehidupan mu itu sudah sangat luar biasa, ayah kasih contoh,..kamu belanja di warung, harga barang 1500, lalu kamu bayar pakai uang 5000, kira2 berapa kamu dapat kembalian, 3500 kan,...nah begitu bentuk sederhana dari ilmu yang diterapkan, ndak perlu kamu harus mendapat rangking, toh rangking itu tidak akan menjamin kamu akan menjadi orang yang berhasil, dan itu sudah banyak yang ayah saksikan"....dapat rangking bagus, ndak dapat rangking jangan sedih... "

Yang mau saya bilang, cobalah sekali-kali kita hidup bukan berdasarkan dari sebuah persaingan, enteng dirasa, yah ...secara diriku saya sendiri ndak tau bagaimana bentuk prakteknya,karena apa yang harus saya persaingkan,...tapi begini, yang mau saya bilang mari kita merubah mindset berpikir kita, terutama dalam urusan pendidikan anak2,...haruskan anak2 sekolah di paksa mengejar apa yang akan di tulis diatas kertas putih rapornya ?, kalau saya jadi menteri pendidikan saya akan bilang ndak perlu seperti itu, makanya secara teori kasarnya saya mendukung upaya menteri pendidikan yang baru untuk menghapus sistem uan itu.

Lalu dimana letak salahnya,...

Salahnya adalah jika kita menganggap persaingan itu ndak baik dan harus di hilangkan, 

Begini kawan..

Saya pernah baca kisah sahabat tentang bagaimana mereka berlomba-lomba dalam mengejar pahala ibadah, saking semangatnya ada yang sampai beritizam untuk tidak mau menikah maunya ibadah saja terus, tidak mau berbuka dalam puasanya, lalu ada juga yang maunya tidak mau berhenti shalat, walaupun pada akhirnya salah tapi maksudnya ndak salah, kita berlomba-lomba untuk mengejar pahala ibadah karena kita ndak tau berat timbangan amal kita kelak.

Pointnya adalah, marilah kita tempatkan persaingan itu pada tempatnya seperti kita menempatkan rasa keadilan itu juga di tempatnya (baca :Tempatkan Rasa Keadilan Di Tempat Yang Selayaknya)

Salam

Curhat Medsos

Untuk Mu yang Selalu CURHAT di Medsos


Begini soub, saya mau cerita lagi nih, tolong dibaca pelan2 lah, sambil serumput kopi hangat atau teh hangat, kalau ndak bisa serumput dua rumput lah...

beberapa pekan ini saya berpikir keras, betapa perilaku kita dalam bermedia sosial dalam artian mencari teman atau menambah teman itu memiliki perbedaan yang sanga mencolok antara beberapa platform media sosial, di twitter misalnya..di twitter punya semacam filterisasi mana yang harus ditambah atau tidak, bukan aplikasinya yang memfilter tapi penggunanya,..bayangkan saja, saya bikin aku twitter sejak 2 tahun yang lalu, berapa teman twitter yang saya dapatkan itu cuma 500 orang, itupun pake acara merengek-rengek segala, follback dong kaka, sudah di follow nih mana follbacknya dan rengekan lainnya...bidji kan...

di twitter, jumlah huruf itu hanya sampai 120 huruf, yang menjadikan orang2nya disana sangat hati2 dalam memilih suku kata, ibaratnya singkat padat berisi, sedang di facebook kita mau koar2 sampai tuts pc dan hp terlepas atau terhapus pun bisa,..maka tidak heran di twitter itu lebih banyak orang2 yang ndak skeptis dalam berpikir, tapi banyak juga yang dungu disana..hahah dan di twitter kadang menjadi acuan dalam menilai komentar seseorang atau pejabat yang memiliki akun di medsos itu.

di facebook orang begitu gampang mengkonfirmasi permintaan pertemanan walaupun sebenarnya orang tersebut tidak di kenal secara pribadi, asal ada tombol tambah teman sudah langsung di add, tidak lama notifikasi konfirmasi pertemanan pun berbunyi..ping...di twitter walau sudah di follow terus rengek2 minta di follback, sampai berbusa mulut belum tentu juga di follow, terus kalau sudah begitu maka pakai acara unfollow lah, istilahnya 1 follow you follow me, no follow maka unfoll.

di instagram ndak jauh persis dengan twitter, walapun instagram masih satu rumpun dengan facebook.

di yutub malah lebih sadis lagi, kalau kamu tidak bisa menyajikan konten yang di suka dan di cari atau  chanel yutub mu tidak menyajikan apa yang diinginkan orang, jangan harap dapat subscriber.

Perilaku orang dalam bermedsos pun sudah berubah jauh, dulu awal2 medsos kayak facebook muncul, orang2 menggunakannya hanya untuk sekedar menyapa teman di dunia maya, berbagai informasi, setelahnya jadian deh...hahaha..

Sekarang orang2 menjadikan platform medsos sebagai ajang untuk berdagang secara online, online shoop lah seperti itu istilahnya, saya sih ndak heran...karena prinsip dasar orang berjualan secara online adalah membangun jaringan, sebanyak jaringan terbentuk semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil.

bersambung...

The Flu (2013)

REKOMENDASI FILM TENTANG SERANGAN VIRUS YANG MEMATIKAN


Jauh sebelum wabah virus corona yang lagi menghebohkan dunia ini, sebenarnya penggambarannya sudah ada lewat film2, bahkan bukan saja kasus terbaru itu, sebelum virus corona pun sudah banyak kasus epidemi virus dalam skala besar, misalnya sars, flu burung, flu babi, antrax dan lain sebagainya, tapi kalau saya pribadi kasus terbaru ini yang betul2 menarik perhatian, apalagi dasar virusnya dari china yang notabene adalah salah satu negara yang terlalu angkuh, sombong dan merasa digdaya, ikut juga tuh kelakuan personal warga negaranya yang tidak merasa kalau mereka adalah manusia, jadi rasanya komplit memang..

Beberapa film lawas sudah memberikan gambaran ke kita tentang kejadian seperti yang terjadi di china, walaupun mungkin tidak sama persis, seperti film resident evil, word war z (yang sebentar lagi akan di garap sekuelnya), lalu ada juga film i am legend yang aktornya itu papa will smith, di kawasan asia, ada juga train to busan, lalu film rampant film asal korea, lalu masih dari korea nih film yang mungkin nyaris mendekati dengan apa yang terjadi di wuhan sana, The Flu (2013), dirilis beberapa tahun yang lalu, entah kenapa kok tetiba di beberapa situs sedot film grentongan muncul nih film, padahal sudah lewat beberapa tahun yang lalu, apa karena wabah virus yang menghebohkan itu.

Jadi gini soub, nonton film itu tidak sekedar hanya melihat aktornya yang ganteng, salah soub kalau seperti itu, ndak perlu jauh2 kalau mau cari yang ganteng, ada saya kok disini...hahaha. atau misalnya cuman sekedar menyaksikan akting dari pemeran utamanya, ndak kayak gitulah, menonton film itu termasuk menikmati nilai2 yang sedang ditangkan dari film itu, mengasah kemampuan nalar kita untuk bisa melihat alur cerita dan plot yang disajikan.

Dan menonton film ndak seperti menonton sinteron GGS (Ganteng-ganteng rantaSa), atau sintetron indosiar yang judulnya bikin pusing 7 keliling "Anakku Menjadi Anak Mantan Istri Suamiku", atau yang judulnya "Aku Menikahi Mantan Suami Kakakku". Menonton film itu harus dengan nalar biar plotnya terasa,...terus ada yang bilang..ah nonton sinetron juga pakai nalar kok, buktinya pung daang (istri penjaga malam di pabrik), kalau nonton sinetron pakai menangis-menangis juga,pakai teriak2 juga, berarti dia menghayati juga kan..saya bilang itu bukan nalar tapi settres...wkwkkw.

Ok brader,..silahkan mampir di situs2 sedot film grentongan kalau ingin lihat lebih detil tentang film ini.

Salam

Tempatkanlah Rasa Keadilan Di Tempat Yang Selayaknya

Tempatkanlah Rasa Keadilan Di Tempat Yang Selayaknya

Dunia itu penuh dengan rasa ketidak adilan, saban hari kadang kita mengeluh, kok ini ndak adil, sebagian orang pintar tarik subsidi terus, sebagiannya lagi ada yang kurang gizi, lalu kita semua teriak dimana rasa ketidak adilan, terus ketika seorang pencuri ayam di vonis 5 tahun "", berapa sih harga ayam, bagaimana dengan koruptor yang malingnya yang duitnya bisa ndak habis 10 turunannya cuman dapat vonis setahun, 2 tahun lalu remisi ini, remisi itu, belum kelar 2 tahun dah senang2 lagi di rumahnya, dan sekali lagi kita teriak dengan teriakan yang sama

Lalu soal kebijakan-kebijakan yang juga tidak pro pada rakyat kecil, lalu di saat yang sama mereka yang seharusnya tidak layak dapat subsidi malah dapat subsidi, seperti subsidi untuk penguasa kelapa sawit di kalimantan sana.

Dan sekali lagi kita teriak dimana rasa keadilan itu.

Dan kalian tahu ndak kenapa patung dewi keadilan itu di tutup, itu merupakan simbol bahwa keadilan itu tidak mengenal siapa kamu, ada apa dengan kamu, bagaimana status mu, apa jabatan mu, kalau kamu salah walaupun kamu adalah seorang pejabat maka kamu dapat vonis salah , kalau kamu benar walaupun kamu hanya seorang rakyat jelata maka kamu dapat pembenaran.

Kadang saya berpikir, menyesal saya membuat akun media sosial, karena di akun ini dan juga akun2 media sosial lainnya yang saya miliki saya melihat bentuk dan rasa ketidakadilan itu lewat tayangan2 berita yang di share oleh teman2...dan ingin saya menutup semua akun2 media sosial ku, agar saya tidak terkotomi oleh virus-virus ketidak adilan. tapi rasanya susah juga, soalnya dengan akun medsos ini saya bisa memanggil mu SENJA...hahahah.

Dan cerita nya fix ni yah,..bahwa semua butuh rasa keadilan.

Tapi gini soub, sekalipun demikian pada akhirnya kita juga akan sepakat bahwa ternyata tidak semua butuh diterapkan rasa keadilan itu...

Barusan saya nonton beberapa iklan di tv, iklan pasta gigi, video iklannya pasta gigi itu sedang di praktekan oleh model bagaimana cara pakainya, di tunjukkan juga kalau hasilnya itu gigi bikin kinclong, lalu iklan deodorant, sama dengan iklan pasta gigi itu, kontennya seorang wanita lagi gosok2 keteknya pake deo itu, dan keteknya kelihatan tuh tidak burket dan belang2 lagi yang sesuai dengan promonya, deodorant yang bikin ketek kinclong bling-bling kata iklannya, tapi soub, bagaimana dengan iklan pembalut, yang cuma di tunjukan modelnya doang sama pict produknya, ndak ada acara bagaimana cara di pakai, juga bentuk hasilnya yang katanya bikin si ****** itu jadi ini, jadi itu, taunya modelnya sudah guling2 bebas di kasur yang empuk sembari bilang AKU BEBAS SEHARIAN INI, apaan tuh....ndak adilkan, yang lain di tunjukan kok dia tidak,....atau kata teman saya yang lebih ektrim lagi protesnya....soal iklan celana dalam wanita,....apa yang mau dipakaikan hingga produk yang sudah terpakai ndak di tunjukan, yang ada si model sudah pakai celana panjang atau rok atau apa sambil berputar-putar gembira, sambil teriak...ough yeah ough mae gat...tapi kayaknya teman saya ini lagi halu deh, perasaan ndak ada tuh iklan celana dalam di tv nasional...wkwkwkwk..

Coooba itu...

Berani nggak kita minta keadilan untuk 2 jenis iklan itu, kalau kamu ngotot pengin rasa keadilan disitu siap2 deh kamu kena tampol...

jadi mungkin intinya begini, tempatkan lah rasa keadilan itu pada tempat yang memang sudah selayaknya untuk ditempatkan.

Melati

Melati
Bernama latin Jasminum Sambac, adalah salah satu tanaman yang tergolong ke dalam perdu (kelompok pohon yang mempunyai tinggi di bawah 6 meter). Melati mempunyai bentuk batang yang tegak dan dapat tumbuh menahun dengan cara merambat. Tergolong ke dalam family zaitun (Oleaceae).

Melati hampir tersebra di seluruh negara yang ada di dunia termasuk itu juga Indonesia (kecuali mungkin di Wakanda,..heheh), tanaman ini tidak butuh jenis atau media tanam khusus, bahkan bisa tumbuh di pinggir2 jalan, tapi soub..jangan sekali-kali bilang kalau tanaman ini bunga murahan,..gelut kita itu....

Ada yang pernah nonton serial Band Of Brother episode Carentan, di salah satu scenenya di perlihat bagaimana tentara2 jerman menyematkan sekuntum melati di dada kanan mereka, dan ini bukan sembarang di lakukan melainkan oleh mereka yang benar2 memiliki jiwa kepahlawanan tingkat tinggi, dan benar saja, di negeri kita tercinta ini Melati adalah simbol Puspa Bangsa, karena perwajahan dari  kemurnian dan kesucian jiwa.

Hampir sama dengan mawar, melati ini termasuk tumbuhan tropis, dapat tumbuh dimana dan kapan saja, di setiap rumah hampir pasti ada tanaman ini, selain wanginya yang khas konon wangi dari melati ini bisa bikin serangga nyamuk ndak betah lama-lama tinggal, bisa jadi obat anti nyamuk herbal juga.

Melati familiar di acara nikahan, potongan-potongan kembang ini banyak di gunakan sebagai ornamen pernikahan, terutama yang menikah dengan adat jawa, pasti tuh ada untaian melati, mulai dari bagian kepala sampai ke bawahan busana pengantin.

Berikut beberapa manfaat dai bunga melati.

Yang pertama, bikin segar perasaan, soalnya wanginya yang harum bisa jadi aroma terapi buat yang settres, saya sendiri kalau lagi penat, sempatkan diri buat mendekat ke tumbuhan ini dan merasakan aromanya yang khas.

Yang kedua bisa di buat aroma teh, saya ndak tau persis bagaimana prosesnya, apa bunganya yang langsung di ambil atau bagaimana, tapi banyak tuh jenis teh yang beraroma melati, coba sesekali makan dengan minumnya teh melati, apalagi yang dingin....ueeenak....

Yang ketiga, masih saya pikirkan...hahaha

Ok gaes....selamat sore menjelang malam semua...

Salam

Mawar Hitam Tak Mekar-Mekar



Ada 3 unsur kata dari kalimat diatas, Mawar, Hitam dan tak mekar, masing2 3 unsur kata itu memiliki korelasi yang tak saling berkaitan, korelasi itu apa ya ?,...tau ah,..saya cuma nulis saja..hehehe...

Gini soub saya jelaskan

Mawar, adalah sebuah kata untuk nama bunga, semua pasti taukan bunga yang bernama mawar itu, bunga yang selalu di indentikan dengan keharmonisan hidup, keindahan, kesucian, kesetian, rasa manis dan semua apa yang menjadi sebutannya, dan jika di ibaratkan ke seseorang maka Mawar itu adalah seorang yang memiliki sifat lemah lembut, setia, penuh cinta kasih, ramah supel dalam bergaul, sopan dalam tutur kata dan tindakannya, tidak pandai berbohong, selalu apa adanya bukan ada apanya, kalau kita bahasakan secara syari mawar itu adalah sosok yang miliki sifat qonaah, amanah, penuh rasa mahabbah, dan lain2...intinya sosok yang diibaratkan dengan Mawar ini adalah sosok yang sangat ideal untuk ditemani, jika itu adalah wanita maka dia adalah sosok yang patut untuk di jadikan istri, teman bercakap, teman curhat dan sebagainya, dan jika Mawar ini di ibaratkan ke penjual cocoknya jadi tempat utang...hahahahahaha, kan kalau di utang nggak galak kalau menagih, kalau di ibaratkan ke laki2 kira2 dia jadinya pria kaleng2....hahaha

Hitam....nama untuk sebuah warna, tentu saja kita tau kalau warna itu tidak identik dengan keindahan, kalau pun ada mungkin di paksakan, pengibaratannya lebih pada sebuah rasa yang penuh dengan kesuraman, keseraman, bahkan warna hitam ini zaman wiro sableng dulu adalah sebuah aliran persilatan yang sangat kejam dan sadis..hehe.

tapi jangan salah soub, saya ndak mengartikan dengan sesuatu yang buruk, hitam disini adalah sebuah sifat keras, pantang menyerah, kuat dalam memegang prinsip, petarung hidup dan kehidupan...saya sendiri suka sama warna hitam ini, selain beberapa warna lainnya, jika di ibaratkan ke seseorang maka warna hitam ini dihindari jika dia tukang kredit,..nagihnya bakal galak tuh,..deep kolektor lah..hahahaha.

Tak Mekar2, berarti tak tumbuh, cita2 yang tak terwujud, keinginan yang tak kesampaian, harapan yang di luar ekspetasi, penyelasan yang mendalam dan lain sebagainya...saya pribadi mengibaratkan Tak Mekar itu adalah seseorang yang miliki cita2 tapi tak kesampaian....

kekira seperti itu soub...

Mungkin ada yang tanya kok ndak sama dengan pictnya,...gini sobat...dalam bahasa Indonesia kita taukan ada istilah majas, majas itu adalah sebuah gaya bahasa, nah mawar tak mekar sedang pictnya mawar mekar adalah sebuah majas, contoh lain adalah puisi karya bung Khairul Anwar yang berjudul :Aku Ini Binatang Jalal", jangan di artikan lurus lah,..berkelahi orang kalau di artikan lurus....kalimat itu penuh makna dan gaya bahasa, orang sastra pasti bisa jelaskan.

Salam

Bulukumba Hari ke 12 Bulan ke 1 tahun ke 2020

Aku, KAMU dan Juga Yang Lain (04)

Dahulu di SMA 3 Raha

Aku, kamu dan juga yang lain adalah manusia yang masih punya pesona di umur yang setengah tua ini, meski kita dah di balut keriput yang makin kentara, dan mungkin juga juga daki yang kian menebal,...(oh tidak..itu untuk satu orang..hahahah).

Tapi harapan ku, di sisa moment itu, biarlah senyum kita masih mengembang di bibir masing2, yang menandakan kalau kita pun menolak untuk punah..hehehe

Biarkan canda ceria mengalir bebas, ntuk sekedar menjaga semua memori yang mulai tergerus oleh rentang waktu yang panjang, kalau tak sanggup lagi ntuk mengingat, marilah kita mendengarkan musik2 lama atau apalah yang mungkin saja itu dapat membantu kita untuk kembali mengingat masa-masa emas kita dulu.

Dahulu, Aku, KAMU dan juga yang lain satu sekolah, bahkan mungkin diantara kita ada yang satu bangku, dahulu kita begitu mudahnya kita saling berbagi uang jajan, berbagi bekal air minum, berbagi utang di warungnya la Djiba, berbagi pulpen, berbagi jawaban tugas dan ulangan, dan kali ini dengan jarak yang cukup jauh antara Aku, KAMU dan juga yang lain, mungkin tak akan lagi saling berbagi seperti masa2 itu, tapi paling tidak antara kita saling berbagi pengalaman dan cerita masing2, cerita bagaimana kita menjalani hidup yang keras ini, saling suport antara kita....

Sahabatku Tercinta

Jalan hidup kita memang sudah berbeda, seperti di pertigaan masuk ke sekolah kita dulu,...aku belok kiri arah motewe, sedang KAMU belok kanan arah ke kota...yah walaupun kadang2 aku belok kanan juga tapi ndak jauh2 sih, paling di mojok di depan gereja tua itu, buat temanin someone yang punya rambut ikal indah beraroma wangi khas dari santan parutan kelapa,....

Tapi,...walaupun kita sudah tidak lagi sejalan, pesan ku soub !!!,.......bahwa betapa beruntungnya kita di umur yang menjelang tua ini,..tuhan masih mempertemukan kita dengan cara-NYA.

Hingga kita dapat kembali mengenang masa-masa muda dulu, masa-masa indah yang pernah kita lewati bersama.

Banyak, banyak,..pokoknya banyak, lembaran album berhalaman-halaman pun rasanya tak akan sanggup memuat kisah2 Aku, KAMU dan juga yang lain jika itu hendak di tintakan di kertas putih.

Sob...

Mari nikmati kenangan indah ini dengan rasa syukur.

Sebelum Aku, KAMU dan juga yang lain , satu demi satu dari kita tiada, sebelum apa yang selama ini nyata menjadi fana tak tersisa.

Terimakasih sahabat2 ku di masa muda, dan terimakasih sahabat ku2 di masa-masa menjelang tua

Mari kita saling mengingatkan, memaafkan dengan hati yang tulus

Semoga kita senentiasa sehat, sukses dan bahagia dimana pun kita berada

Jangan pernah memutus persahabatan, kecuali jika kita telah berpindah ke dunia abadi.

Hidup cuma sekali, jika benar hidup itu indah ?, ingin kembali ku tatap wajah dan senyum manis MU seperti dahulu kala, walapun itu untuk satu kali saja.

salam

Zulham Efendi,..Alumni 3 IPS 1, SMA 3 Raha angkatan 1997..

Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (03

SMA 3 Raha dalam kenangan


Bulukumba, hari ke 23 bulan ke 9 tahun ke 2019.

Sudah 22 tahun sejak saya meninggalkan sekolah kita itu, tahun 1997, awal2 dimana negeri kita terkena resesi yang mungkin dampaknya masih terasa hingga sekarang, boleh di bilang masa itu adalah sesuatu yang mengagetkan, bayangkan saja jika 2 tahun sebelumnya kita jajan pisang goreng di warungnya mama la Isran 500 rupiah dapat 4 potong, tapi di tahun itu kita hanya bisa dapat 500 rupiah 1 potong, tapi dasar jahilnya mereka, jajan 500 makannya 5000, setelah itu saling tuduh menuduh, mamanya Isran sih Bibi ku jadi aku sih bebas,..hahahahhaa.

Tahun pertama di kelas masing2 kita2 masih malu2, masih menjaga jarak, saling mencuri pandang, saling mempelajari karakter masing2, ada yang memang di tahun pertamanya itu sudah brenseknya minta ampun, ada juga yang di tahun pertamanya itu sok tau akan segala hal, lalu ada juga yang sejak tahun pertama sampai tahun ke tiga kupernya nggak berubah-rubah, tapi itulah awal bentuk transformasi kita sebagai siswa SMA 3 Raha. Tahun pertama saya di kelas 1.3 walikelasku kakaknya fatma yang guru Biologi itu, yang killernya minta ampun, saya paling ndak suka disuruh menyanyi di depan kelas gegara tidak kerjakan PR Biologi, saya sejak awal memang tidak menyukai pelajaran ilmu pasti, karena menurut ku ilmu pasti itu membatasi pola wawasan dalam berpikir, kita hanya berkutat di teori, rumus dan lain2, wali kelas itu punya adik Fatma namanya kalau tidak salah dia satu kelas dengan saya di kelas 1, Budinem juga mungkin sekelas dengan saya,...agak lupa juga, teman pria yang saya masih ingat waktu di kelas 1 cuma la Ikra, sisanya sedang saya usahakan untuk saya ingat.

Tahun ke 2, masing2 karakter sudah mulai berkembang, alur minatnya sudah mulai terbentuk, beberapa teman sudah nampak minat dan bakatnya, ada yang menjurus ke ini, ada juga yang menjurus ke situ bahkan ada juga yang jurusan maunya selalu ke pasar laino atau jalan2 ke bypas, hahaha....tumbuh kembang kita disekolah itu sejatinya di mulai di tahun ke dua, antara kita nyaris tak ada batas, dulu di tahun pertama kita masih saling menjaga lisan, di tahun ke 2 sudah ndak ragu bercanda, bersenda gura, jahilin teman dan lain2 pokoknya segala keseruan di masa2 ranumnya itu di lakukan, hanya saja kita jauh dari hal2 yang negatif kita ndak kenal narkoba dan sejenisnya.

Tahun ketiga karakter masing2 makin kuat, apalagi kita2 waktu itu sudah penjurusan, ada yang masuk ipa dan yang masuk IPS, beberapa teman akrab yang mungkin saja waktu di tahun ke 2 sebangku pas naik ke kelas 3 harus rela pisah bangku kelas, karena berbeda jurusan, lalu ada juga yang dulu kurang akrab di kelas 1 dan 2 pas naik ke kelas 3 bisa jadi akrab karena satu jurusan., saya sendiri memilih masuk jurusan IPS, karena saya pikir di jurusan itu saya bisa lebih bebas mengekpresikan cara ku memandang dunia, kadang juga sih saya merasa kasihan dengan beberapa teman2 yang masuk jurusan IPA yang kalau keluar main atau pulang mukanya pucat kering mikirin PR fisika yang rumusnya mereka ndak faham juga,..hahaha.kasihan deh kalian...

Soub,....jujur,..selama kebersamaan kita di 3 tahun itu, sebenarnya kita sedang bersandiwara, masa-masa indah di kebersamaan kita waktu itu adalah sebuah kepura-puraan kita, bak sebuah cerita pewayangan yang sukses kita lakoni, sebuah skenario telenovela yang hanya untuk menutupi sebuah tragedi yang mau atau tidak mau akan kita lakukan,....saya marah, ingin rasanya teriak, .....kenapa itu harus kita lakukan, kenapa,..kenapa, kenapa...dan sampai sekarang pun saya masih sulit untuk menjawabnya....

Siang itu, di aula, di dalam sebuah acara yang sangat sederhana, wajah2 polos, mata2 yang indah, senyum2 yang manis saling bercanda tertawa lepas, menceritakan sebuah cerita yang mungkin baru saja di alami ketemannya yang lain, kayak orang yang lupa kalau dia punya utang bermilyar-milyar.

Sesama kita saling tertawa lepas, saling ngegosip, tapi saya yakin perasaan kita semua waktu itu sedang gundah, kacau atau apalah...yah...siang itu adalah hari terakhir kita berseragam putih abu-abu, hari terakhir kita kalau masuk sekolah via gapura utama mungut dulu dedaunan yang berjatuhan, hari terakhir kita menyebut istilah "era perundagian", hari terakhir kita kejar-kejaran dengan pa Agakhan, hari terakhir kita lompat pagar di belakang kelas 3 ipa, hari terakhir kita upacara bendera di lapangan depan sekolah yang di bagian pengerek benderanya terlalu sempit butuh berhari-hari untuk di biasakan, hari teakhir kita..ahhh...tak sanggup aku menulisnya soub...

Sesaat kemudian mata mata yang indah itu harus memerah karena sedih, sedih berpisah dengan teman yang selama 3 tahun bersama-sama menjalani kisah yang indah, senang, susah dan lain.

Mungkin hari itu adalah hari yang akan saya paling saya benci, dalam seumur hidupku, tapi itulah roda kehidupan, masing2 dari kita punya cita2 dan rencana yang lebih besar, cuman 1 pesan ku untuk MU,..iya KAMU,..eits.jangan lihat kiri kanan, cuma ada saya dan KAMU disini, selalu ingatlah kalau Aku dan KAMU pernah berjalan bersama dia atas rumput sekolah.


Salam

Keterangan foto

panah berwarna hitam, adalah gedung perpustakaan sekolah kita, gedung yang punya kisah tersendiri, kan terkenang sampai kapan pun

panah berwarna merah adalah ruang kelas ku, kelas 3 ips 1.


Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (02)

Nostalgia Masa SMA Kita


tolong di baca pelan2 sambil serumput teh di sore hari.

Pagi 15 Agustus 1996, kalau ndak salah waktu itu,...kita semua sudah berkumpul di sekolah setelah libur panjang semester genap, sekolah sudah mulai ramai, ada anak2 baru yang masuk, jumlahnya masih signifikan, rerata dari luar kota atau yang domisilinya agak jauh dari sekolah kita itu, bahkan di angkatan saya itu ada lho yang dari KAMBARA sana, dulu desa itu asri, teduh dan sejuk, pohon jeruk dimana-mana, yang punya kampung itu kalau senyum,.. aduuuh,..senyum saaaaaaangat manis semanis jeruk nya walaupun sebenarnya sebagian jeruknya ada juga yang kecut, tapi senyumNYA tetaplah manis mennnn. Sekarang saya yakin desa itu yang mungkin sekarang sudah menjadi kota lebih berkembang lagi apalagi daerah itu sudah menjadi bagian dari pemekaran kabupaten muna yang kemudian masuk dalam lingkup otonomi muna barat.

Secara zonasi kalau di persentasekan mungkin lebih banyak murid yang berasal dari luar kecamatan tepat SMA kita itu berdiri, ini mungkin yang akhirnya menjadi stigma sebagian orang-orang kalau sekolah kita itu cuma sekolah buangan, maklum kita bukan anak2 pejabat, bukan anak2 orang kaya, bukan anak2 yang ortunya terpandang punya kedudukan secara strata sosial, yang ada adalah kita2 banyak yang berasal dari keluarga petani atau kalau mau dikastakan hanya dari golongan kasta menengah kebawah. Entahlah kenapa bisa begitu apa karena standarisasi sekolah kita terlalu rendah, karena secara awal berdiri memang skolah kita itu kelanjutan dari sekolah pencetak guru yang dulu di sebut SPG (Sekolah Pendidikan Guru) saya sendiri mungkin angkatan ke 3 atau ke 4 sejak sekolah itu bertranformasi menjadi sekolah umum tingkat atas, toh dengan semua itu kami cuek dan tidak menyurutkan kami untuk tetap bersemangat sekolah walaupun selama 3 tahun kami disana, bukan cuma cerita indah yang kami lalui, ada juga cerita tentang kenakalan, kebandelan, sedih, pokoknya yang khas lah dari anak2 remaja yang kencing belum lurus, yang kalau tidur masih suka bebe ,...hahahah.

Kembali ke soal tanggal 15 itu, saya agak lupa bagaimana bentuk pengumumannya pakai kertas atau di sebut satu satu,..kami kemudian di bagi menjadi 2 jurusan, setelah 2 tahun dari kelas 1 sampai kelas 2 di amati minat dan bakatnya masing anak2 murid oleh pihak sekolah dalam hal ini dewan guru, di putuskan kami di jurusan mana, dan alhamdulillah saya bersama beberapa teman yang memang sejak awal sudah seiya dan sekata masuk ke dalam jurusan IPS, ada Suharto, Ferry, Adang, Alimuddin (ilut), Kaharuddin (Andu), Saiba, Emi Hidayat atau Emi Diana (saya agak lupa, pokoknya nama panggilannya Emi) terus ada Jawaba Nur, Zainal yang dari Tampo itu, Susanti dan beberapa temannya lainnya.

Terus beberapa teman lainnya masuk ke jurusan IPA termasuk 3 perempuan cantik teman sepermain saya dan harto, ada Leni, Purna, Ramlah, lalu ada juga Kahar the king of ........, hahahha. Almarhumah Hamdiah (semoga Allah senantiasa menerangi alam kuburnya, amiin) ada juga DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas (hahay), Dianawati, Sumarna (ehem, ehem) pa ketua Alumni sma 3 angg 1997, Irman, Azim Gani yang dulu rumahnya di ASTER sana, terus pa Hamana (yang satu ini selalu menjadi bahan cerita ke anak2 ku tentang semangat dan perjuangan pantang menyerah), ada juga Rasyidin, Oktavia, Budinem, terus ada juga Surikanti, oh iya ada juga MImi mangkere, Safia terus siapa lagi, coba di tambahkan nanti dikolom komentar.

Saya masuk di kelas 3 ips 1, ruangan kelasnya itu pas didepan gedung perpustakaan ( gedung ini punya kenangan tersendiri, mungkin satu saat nanti kalau saya dikasih kesempatan untuk melihat sekolah itu lagi, yang pertama ingin saya lihat adalah gedung perpustakaan ini), yang sisi dinding dalam ruangan kelasnya itu terbuat dari kaca nako, yang di zaman kami dulu kadang dipakai buat cermin, benarin rambut biar kek om Tomi Page yang artis holiwod itu, satu-satunya ruang kelas kalau ulangan guru tidak menghadap ke murid tapi ke dinding kaca itu, karena pantulannya bisa terlihat siapa yang mencontek, nah di belakang kelas ku itu ada lapangan badminton atau takraw, sedangkan untuk kelas 3 ips 2 ada di bagian yang sejurusan dengan kantor atau ruang BP, ruang terkeramat sejagad alam raya waktu itu,..hahaha.

Lalu untuk jurusan IPA menempati 2 unit ruang kelas yang merupakan ruang kelas baru,.. aseem... kenapa juga mereka di tempat kan di ruang kelas baru itu,...gedungnya pas berseblahan dengan pagar tembok pembatas sekolah dengan alam liar yang juga berfungsi sebagai pintu masuk keluar ke tiga setelah gapura dan yang didepan pintu gerbang SKB, di sebelah tembok itu pas tanah dan rumahnya pa abidin yang punya teras bertehel merah, di teras itu juga punya banyak tercipta kenangan manis disitu.

Selepas tanggal 15 itu kami pun memulai keadaan dengan suasana yang baru, konsentrasi pelajaran yang baru, kami belajar tentang dunia secara luas melalui beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Tatanegara, Antropologi, Sejarah, hingga hingga studi tentang phisikologi manusia pun kamu pelajari melalui pelajaran Sosiologi, anak IPPPS gitu lho,..wawasannya itu tentang dunia mennnnn..sedangkan yang jurusan IPA berkutat di pelajaran 1 + 1 = 2,....monoton di situ-situ saja, tidak belajar tentang mengoptimalkan sumber daya manusia,..saban hari kalau keluar main atau kalau pulang wajah mereka kusut karena menghafal rumus2 kimia dan fisika,..hahahaha.

Tapi bagaimana pun juga mereka tetaplah teman-teman yang pernah menghiasi jalan hidup ku, dari dulu hingga sekarang, saya yakin mereka juga akan berpikir begitu, atau tidak ya...entahlah...hahaha.

Sekitar ruang kelas 3 IPA itu ada rumahnya La Djiba yang punya silat saradiki itu, yang anaknya mirip Novia Kolopaking, suer mirip sekali, kabar terakhirnya katanya dia sudah meninggal, Innalillahi wainailahi rojiun. di depan ruang kelas ipa itu ada 2 atau 3 pohon jambu mente kalau ndak salah kadang kalau keluar main kami lempar pake batu atau kayu terus jatuh di kamarnya pa Kris terus pa kris teriak2 marah2..setelah itu baku tuduh2 semua...

di depan ruang kelas 3 IPA itu juga ada jalan kecil menuju ke belajang lab, tempat yang pernah saya pergoki la andu ngegombal wa yanti tapi di tolak, terus di depan kelas 3 ipa itu ada juga ruang kantin yang tidak di fungsikan tempat saya biasa menunggu seseorang lewat tapi dia mutar di depan lab yang kebetulan saling berhadapan juga gedungnya.

Agak naif memang, tapi akan terus, terus, terus, juga lagi, lagi, lagi sampai saya tiada lagi saya akan bercerita tentang sekolah kita, sampai dimana saya sudah tak bisa menatap kejamnya dunia, sampai saya tak bisa lagi menghirup pekatnya polusi udara.

Bulukumba, tahun ke 22 sejak kami tinggalkan sekolah hebat itu.

Salam

Aku, Kamu Dan Juga Teman Teman yang Lain (01)



Nostalgia Masa SMA kita

Pintu masuk ada 2, di gapura sekolah yang pas di samping papan nama itu, gapura itu cukup keramat, karena 90 % siswanya jarang yang mau masuk lewat situ, pintu ke dua pas yang berhadapan dengan gapura SKB, sebenarnya masih ada pintu ke tiga, tepatnya di belakang ruang kelas 3 ipa, tapi itu darurat hanya untuk di pergunakan dalam keadaan genting,..hehehe

di samping lapangan upacara ada arena untuk olahraga sepak takraw atau untuk bulutangkis bisa juga, di situ juga dekat dengan tempat parkir motor, ruang kelas kita dihubungkan oleh koridor beratap teduh, sehingga jika kita berpindah kelas ndak kepanasan, kita dulu pake sistem moving kelas, ruang kelas kita cangat refrensentatif untuk belajar, ada banyak ruangan ndak ada yang namanya masuk siang karena ruang kelas cukup.

Ada lapangan sepakbola mini tempat kita semua berolahraga, tempat terjadinya tragedi jalan cepat di pagi hari, lakonnya wa Anu, yang punya rambut hitam berkilau, yang punya mata indah kek penyanyi bule Alanais Morisete, lalu ada ruang kelas ipa, jendela kacanya punya moment manis yang tetap terkenang sampai saat ini,...

ah...DIA yang Senyumnya Merekah di Balik Jendela Kelas

saya awali kehidupan ku di sekolah ini sekitar tahun 1995, bersama teman-teman yang luar biasa hebatnya, walaupun ada beberapa yang kemudian saya kenal belakangan karena pindahan tapi tidak dapat mengurangi rasa sayang dan hormatku kepada mereka, ada salah satu sobat terbaik ku La ode kahar, lalu ada juga dia yang punya Siluet Indah di Depan Kelas Ku dan beberapa lainnya.

Banyak cerita dan kisah tercipta, seperti yang di nanyikan di lagu ini,..nostalgia masa sma masa yang tak akan hilang begitu saja.

Masing2 dari kita sudah terpisah oleh laut, daratan dan cita2,..tapi saya yakin suatu saat nanti kita semua akan kembali bersua, saling berbagi cerita dan pengalaman, saling berbagi hal yang sudah terlewatkan di 20 tahunan ini....

Salam rindu ku untuk kalian semua

Zulham Efendi Alumni SMA 3 Raha Angg 1997

Nama ku Maryam

Nama ku Maryam

Hari itu saya ndak langsung pulang, tinggal dulu barang beberapa jam di Masjid Nabawi sampai matahari mulai menyinari pelataran masjid, perlahan-lahan satu persatu payung-payung yang ada di pelataran itu mulai terbuka seiring dengan sinarnya  yang menyinari lantai marmer berwarna putih, badan masih terasa lelah, maklum mulai jam tengah malam kami sudah harus berjibaku berebut tempat di tempat  yang Rasulullah katakan sebagai Taman-Taman Syurga, ya...apa lagi kalau bukan Raudhah,...suatu tempat di masjid yang posisinya antara mimbar dan rumah nabi yang sekarang berubah menjadi makam Rasulullah.

Suhu seperti siang hari kemaren, masih panas walapun jam baru menunjukan pukul 1/2 7 pagi, ku tutupi hampir seluruh wajah ku dengan sorban yang baru saya beli beberapa hari yang lalu, sedikit bisa mengurangi dampah hawa yang lumayan tidak bersahabat ini, lalu terdengar suara menderu-deru di tiang2 payung halaman masjid, rupanya kipas2 yang terpasang di masing tiang itu mulai berputar menetralisir suhu yang mulai naik secara perlahan.

Langkah ku masih gontai, wajah ku tertunduk tak memandang sepanjang beberapa meter, maklum lantai marmer yang berwarna putih itu sedikit menyilaukan pandangan mata ku.

Yang saya perhatikan, di masjid Nabawi, hampir mereka yang bermukim sekitar masjid menjadikan masjid sebagai tempat wisata religi mereka, saya sering menemukan beberapa keluarga mengelar tikar dan karpet mereka lalu lesehan begitu saja di lantai halaman masjid di temani dengan beberapa anggota keluarga lainnya, bersama mereka tentu saja aneka makanan dan minuman, persis kayak kita2 yang pergi piknik di tempat wisata.

Ternyata yang saya tidak sadari adalah sepasang mata indah, berbulu mata lentik memperhatikan langkahku yang sedikit gontai itu, kek tidak punya semangat lah, saya betul tidak memperhatikannya hingga ketika saya melewati kumpulan mereka, seorang anak kecil menarik baju ku dan memberikan seuntai tasbih berwarna biru menyala, lalu saya mendekati kumpulan keluarga itu, saya tidak melihat ada lelaki dewasa disitu selain anak kecil tadi, adanya seorang ibu tua, seorang anak perempuan kecil mungkin sodaran sama anak laki kecil tadi dengan seorang wanita dewasa yang walapun dengan tampilan cadarnya saya masih bisa mencuri pandang bulu matanya yang lentik dan jemarinya yang putih mulus tak bercacat,..sweet, sweet...




"thank you, my name Zulham Efendi from Indonesia", saya memulai dan mengarahkan percakapan ke wanita dewasa itu, tidak ke ibu tua itu karena dia sedikit sibuk dan larut dalam lantunan dzikirnya menggunakan untain tasbih yang sama yang di berikan oleh bocah itu, lalu keadaan membisu, mungkin ada rasa grogi diantara mereka, mungkin mereka tidak pernah di sapa oleh pria ajnabi selain keluarga mereka, atau mungkin  grogi karena ke machoan ku ini,..hahahaha...

"This for you, do not exchange", (dengan intonasi nada yang dipaksakan, maklum ndak faham sama bahasa inggris ini) sambil saya sodorkan selembar duit berwarna merah muda "do not exchange" saya mengulang perkataan saya, lalu saya menatap sedikit wajah wanita muda itu, dia mengangguk, entah..apa dia faham atau tidak, lalu saya kembali gontai melangkah...

Tak berapa meter terdengar "my name Maryam", sambil dia melambaikan tangannya.

Saya balas lambaian tangannya..."ya...thanks for (sambil saya ancungkan tasbih pemberiannya itu) Assalamu alaikum (lanjut saya)

Dia tak membalas salam ku, cuma kembali melambaikan tangannya.

Sejurus kemudian, set...zul, zul,..kenapa kamu tidak mengajak lebih banyak dialog dengan wanita itu, hati ku membatin, tapi kemudian saya menyadari antara saya dan mereka ada kendala keterbatasan bahasa, lalu saya menggurutu, kenapa dulu saya ndak serius ambil kelasnya ibu Nurjanah, mungkin saja saya tak bersusah payah melafalkan beberapa kalimat bersumber dari Google Transate,...heheheh.

ah sudah lah,..jadi fitnah kalau saya pikirkan terus..mending terus melangkah keburu matahari makin naik...

Hari ke 23 Bulan ke 6 tahun ke 2019 di Madinah Kota Nabi

Catatan : wajah perempuan bercadar itu cuma pemanis tapi foto tasbih itu real pemberian Maryam

 

Copyright 2018 My Chapter Design By Bamz | Modified By Zulham Efendi | Privacy Policy|Disclaimer|Contact|About